JATIMPEDIA, Gresik - Investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE di Gresik Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan investasi mencapai Rp114,4 Triliun hingga kuartal II 2026.
Besarnya investasi tersebut berbanding lurus dengan kebutuhan tenaga kerja. KEK Gresik diproyeksikan membutuhkan hingga 200 ribu tenaga kerja pada 2036.
External Relation KEK Gresik Rr Ayu Yayuk Dwi Hastuti mengatakan, pertumbuhan investasi harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM), khususnya lulusan pendidikan vokasi.
“Dunia vokasi dan industri menjadi satu mata rantai yang harus saling mendukung,” kata Rr Ayu saat menjadi narasumber dalam Simposium Nasional di Gresik benerapa waktu yang lalu.
Dia menjelaskan, KEK Gresik ditetapkan pemerintah dengan mandat utama mendorong hilirisasi manufaktur. Proses tersebut membuat kebutuhan industri terhadap talenta dengan kompetensi spesifik semakin tinggi.
Karena itu, kebutuhan atau demand industri harus selaras dengan kualitas lulusan pendidikan vokasi. Lulusan tidak cukup hanya mengantongi ijazah, tetapi juga harus memiliki keterampilan.
“Investasi menciptakan permintaan baru atas kompetensi, produktivitas dan budaya kerja. Dunia vokasi bertugas menyediakan dan memenuhi kebutuhan talenta dunia industri,” ujarnya.
Rr Ayu menyebut saat pendirian kawasan, KEK Gresik diproyeksikan mampu menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja dalam lima tahun. Hingga 2036, kebutuhan tenaga kerja di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 ribu orang.
Saat ini terdapat 33 industri di KEK Gresik. Sebanyak 18 industri telah beroperasi, delapan industri sedang dalam proses pembangunan konstruksi, sedangkan tujuh lainnya masih dalam pembangunan.
Dari sisi investasi, nilai yang telah masuk hingga kuartal II 2026 mencapai sekitar Rp114,4 triliun. Jika ditambah investasi sekitar Rp5 triliun yang telah masuk sebelum kawasan ditetapkan sebagai KEK, total investasi terkait kawasan tersebut mencapai sekitar Rp116 triliun.
Dikatakan dia, sejumlah sektor industri di KEK Gresik membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian spesifik, mulai bidang metal, energi, logistik, kimia (chemical), hingga elektronika.
“Harapan kami di industri, dunia pendidikan memberi lulusan atau SDM siap kerja yang memiliki kompetensi,” kata Rr Ayu.
Editor : Eka Sapto