Vision Fest Myopia Care – Natamata Dorong Kolaborasi Cegah Lonjakan Mata Minus Anak

JATIMPEDIA, Gresik   — Kasus gangguan refraksi atau mata minus (myopia) pada anak di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan studi yang dirujuk Kementerian Kesehatan, prevalensi gangguan refraksi pada anak meningkat dari 26 persen pada 2013 menjadi 40 persen pada 2023.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena gangguan penglihatan dapat berdampak pada proses belajar, kualitas hidup, hingga capaian akademik anak.

Merespons kondisi itu, Eyelink Group melalui salah satu unit bisnisnya, Optik Natamata, meluncurkan gerakan sadar mata bertajuk “Vision Fest Myopia Care – Natamata” dengan semangat Protecting the Vision of Future Generation.

Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli, ST., MMT., M.M. mengatakan, peningkatan kasus myopia pada anak tidak hanya perlu dilihat dari jumlah penderitanya, tetapi juga dari bagaimana progresivitas atau pertumbuhan mata minus dapat dikendalikan.

“Dari peningkatan kasus mata ini, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya jumlah kasusnya, namun bagaimana kita mampu menekan progresivitas atau pertumbuhan minus pada anak. Penglihatan yang optimal merupakan fondasi penting bagi anak untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi,” ujarnya.

Melalui gerakan tersebut, Eyelink Group menggandeng sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan mata anak, khususnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian myopia.

Sebanyak 15 sekolah dari Kabupaten Gresik dan Lamongan hadir dalam kegiatan yang digelar di Hotel Aston Gresik, Rabu (12/8), sekaligus menyatakan komitmen untuk mendukung gerakan sosial tersebut.

Dari Kabupaten Gresik, sekolah yang terlibat antara lain Rumah Qur’an Al Ummah, SD IT Al Ibrah, SD Almadany, SD NU Nurul Islah, SD Muhammadiyah 1 GKB, UPT SDN 4 Gresik, UPT SDN 49 Gresik, SD Global School Al Ibrah, dan SD SIG.

Sedangkan dari Kabupaten Lamongan di antaranya SDN Made 4, SDN Jetis 3, SD IT Cendekia, MI Unggulan Sabilillah (MIUS), dan SD Muhammadiyah Lamongan.

Program tersebut didukung ekosistem layanan kesehatan mata Eyelink Group yang terdiri atas RS dan Klinik Mata KMU, National Eye Center (NEC), serta Optik Natamata sebagai pelopor layanan Myopia Care.

Sejak berdiri pada 2010, Eyelink Group juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial berupa pemeriksaan mata di sekolah maupun masyarakat.

Direktur Optik Natamata Muhammad Rijaal Alhaq, S.M., mengatakan peningkatan kualitas penglihatan anak merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri sekaligus mengoptimalkan potensi dan prestasi anak.

Ia mengutip hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan 82 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum di bidang matematika.

Menurut dia, capaian akademik dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah kondisi kesehatan penglihatan yang kerap luput dari perhatian.

“Kita memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Penglihatan yang baik memang bukan satu-satunya faktor penentu prestasi, tetapi merupakan fondasi penting agar anak dapat menerima pembelajaran dengan maksimal. Inilah kontribusi yang ingin kami berikan melalui ‘Vision Fest Myopia Care – Natamata’,” katanya.

Ia menegaskan, pengendalian myopia tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan agar anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan penglihatan yang sehat.

Menurutnya, orang tua merupakan pihak terdekat yang dapat mengenali perubahan perilaku maupun keluhan penglihatan anak. Sekolah juga menjadi mitra penting untuk mengamati kenyamanan belajar siswa serta mengomunikasikan temuan kepada orang tua.

Sementara itu, pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan memiliki peran dalam memperkuat kebijakan, edukasi, serta memperluas akses terhadap upaya promotif, preventif, dan deteksi dini.

Dokter Spesialis Mata Eyelink Group dr. Ria Sandy Deneska, Sp.M(K), mengatakan proyeksi lonjakan kasus myopia secara global hingga 2050 perlu menjadi perhatian bersama.

Menurut dia, peran orang tua, guru, maupun kerabat terdekat anak dalam mengenali gejala myopia sangat penting untuk mendukung deteksi dini dan penanganan yang tepat.

“Pada kasus myopia pada anak, ada beberapa terapi untuk pengendalian mata minus yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Dalam hal ini kita sebut sebagai Myopia Care,” jelasnya.

Ia mengatakan, perkembangan teknologi kesehatan mata saat ini mendukung berbagai upaya pengendalian myopia. Beberapa di antaranya melalui koreksi penglihatan dengan kacamata yang tepat, penggunaan lensa defocus, obat tetes khusus, orthokeratology (Ortho-K), serta EDOF softlens.

“Seluruh penanganan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan mata secara menyeluruh oleh dokter mata dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” tuturnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dan Lamongan mengapresiasi gerakan sadar mata tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Puspitasari Wardani mengatakan peningkatan kasus myopia pada anak merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian bersama.

“Kami mengapresiasi hadirnya Gerakan Sosial ‘Vision Fest Myopia Care – Natamata’ sebagai upaya memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pencegahan.

Berita Terbaru