JATIMPEDIA, Jakarta - Pengamat pertambangan dan energi, Ferdy Hasiman, optimistis smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, akan segera kembali beroperasi setelah sempat berhenti akibat terganggunya pasokan bahan baku.
Menurut Ferdy, keyakinan tersebut didasarkan pada laporan resmi yang telah disampaikan PT Freeport Indonesia kepada pemerintah mengenai kesiapan fasilitas smelter usai menjalani proses perbaikan dan pemeliharaan selama beberapa bulan terakhir.
Ia menilai seluruh tahapan persiapan telah berjalan sesuai rencana sehingga operasional smelter diperkirakan dapat dimulai kembali dalam waktu dekat.
"Freeport sudah menyampaikan kepada pemerintah bahwa fasilitas smelter siap kembali beroperasi. Saya melihat tidak ada lagi kendala yang berarti sehingga produksi bisa segera dimulai," kata Ferdy.
Ia mengatakan beroperasinya kembali smelter Freeport menjadi kabar positif bagi industri pertambangan nasional. Selain mendukung program hilirisasi mineral yang menjadi prioritas pemerintah, fasilitas pemurnian tersebut juga akan meningkatkan nilai tambah komoditas tambang sebelum diekspor.
Menurutnya, kehadiran smelter juga memiliki dampak luas terhadap perekonomian, mulai dari peningkatan aktivitas industri pengolahan, penyerapan tenaga kerja, hingga memperkuat daya saing Indonesia sebagai negara penghasil tembaga.
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas memastikan smelter di JIIPE Gresik akan kembali beroperasi pada September 2026.
Kepastian itu disampaikan Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa (14/7/2026). Ia menegaskan penghentian operasional smelter bukan disebabkan perusahaan tidak ingin mengolah konsentrat di dalam negeri, melainkan karena pasokan bahan baku terhenti setelah terjadi longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.
"Produksi terhenti sekitar Oktober 2025 karena longsor di Grasberg Block Cave menyebabkan pasokan konsentrat terhenti," ujar Tony.
Selama pasokan konsentrat tidak tersedia, PT Freeport Indonesia memanfaatkan periode tersebut untuk melakukan pemeliharaan sekaligus penyempurnaan fasilitas smelter agar siap beroperasi secara optimal saat pasokan kembali normal.
Tony menjelaskan seluruh pekerjaan pemeliharaan ditargetkan rampung sesuai jadwal sehingga smelter dapat kembali mengolah dan memurnikan konsentrat tembaga mulai September mendatang.
"Smelter akan mulai beroperasi kembali pada September tahun ini dan kapasitas produksinya akan ditingkatkan secara bertahap hingga akhir tahun," katanya.
Ferdy menambahkan, kembalinya operasional smelter menjadi sinyal positif bahwa industri pertambangan nasional mampu bangkit setelah menghadapi tantangan operasional akibat gangguan produksi di hulu.
Ia berharap proses peningkatan kapasitas produksi dapat berjalan lancar sehingga smelter Freeport mampu beroperasi secara maksimal dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan negara, pengembangan industri hilir mineral, serta penguatan ekosistem industri logam nasional.
Dengan beroperasinya kembali smelter di Gresik, Indonesia juga dinilai semakin dekat dengan target memperkuat hilirisasi mineral, mengurangi ekspor bahan mentah, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.
Editor : Rizky