BNI Perkuat Ekosistem UMKM di Jawa Timur dengan Pembiayaan dan Pendampingan

JATIMPEDIA, Surabaya - 

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat perannya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur.

 

 

Upaya tersebut dilakukan tidak hanya melalui penyaluran pembiayaan, tetapi juga dengan pendampingan usaha, peningkatan literasi keuangan, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar agar pelaku usaha mampu naik kelas.

 

 

Regional CEO 06 Surabaya, Maya Agustina, mengatakan UMKM memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Karena itu, BNI mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkembang secara berkelanjutan.

 

 

"BNI meyakini bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Oleh karena itu, strategi kami tidak hanya berfokus pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan," ujar Maya di Surabaya.

 

 

Di Jawa Timur, strategi tersebut diwujudkan melalui perluasan akses pembiayaan, pendampingan usaha, peningkatan literasi keuangan, serta membantu UMKM memperluas pasar melalui pemanfaatan teknologi digital dan kemitraan dengan berbagai pihak. Dengan pendekatan tersebut, BNI berharap pelaku UMKM mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan berkembang menjadi usaha yang lebih besar.

 

 

Untuk memperluas inklusi keuangan, BNI menjalankan berbagai program pembiayaan produktif, di antaranya Kredit Usaha Rakyat (KUR), berbagai program kredit pemerintah, serta pembiayaan bagi segmen usaha mikro dan kecil. Layanan tersebut juga diperkuat melalui jaringan Agen46 dan berbagai platform digital sehingga masyarakat, termasuk yang berada di wilayah dengan akses perbankan terbatas, tetap dapat menikmati layanan keuangan yang mudah, aman, dan terjangkau.

 

 

Selain itu, BNI aktif menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, dan berbagai lembaga untuk memperluas jangkauan layanan keuangan kepada masyarakat.

 

 

Menurut Maya, keberhasilan pembiayaan tidak semata-mata diukur dari besarnya kredit yang disalurkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Akses pembiayaan yang semakin luas memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas skala bisnis, sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.

 

 

BNI juga menilai bahwa pembiayaan hanyalah salah satu bagian dari proses pemberdayaan UMKM. Oleh sebab itu, perusahaan menghadirkan berbagai program pendampingan yang meliputi pelatihan usaha, peningkatan literasi keuangan, digitalisasi bisnis, hingga fasilitasi promosi dan akses pasar.

 

 

Melalui program tersebut, pelaku usaha didorong untuk meningkatkan kualitas produk, memperbaiki tata kelola usaha, memanfaatkan teknologi digital, serta memperkuat daya saing di pasar nasional maupun global.

 

 

Di sisi lain, Maya mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam mendorong inklusi keuangan, seperti rendahnya literasi keuangan sebagian masyarakat, kesiapan administrasi usaha pelaku UMKM, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.

 

 

Meski demikian, tantangan tersebut dipandang sebagai peluang untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah, regulator, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan.

 

 

Transformasi digital juga menjadi salah satu fokus utama BNI. Berbagai layanan digital memungkinkan masyarakat melakukan transaksi, pembayaran, pengelolaan keuangan, hingga mengakses layanan perbankan dengan lebih praktis dan efisien. Bagi UMKM, digitalisasi dinilai mampu meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, mempercepat transaksi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan.

 

 

"Tak hanya mendukung pelaku usaha yang telah berjalan, BNI juga berupaya mencetak wirausahawan baru dari kalangan generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui program edukasi kewirausahaan, literasi keuangan, pelatihan bisnis, serta dukungan pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha," katanya.

 

 

BNI juga memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas, inkubator bisnis, dan berbagai mitra strategis lainnya agar semakin banyak sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lahir dari generasi muda.

 

 

Dalam mendukung ekonomi daerah, BNI memberikan perhatian pada berbagai sektor produktif yang memiliki potensi besar di Jawa Timur, seperti pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Pendekatan pembiayaan dilakukan sesuai karakteristik dan potensi masing-masing wilayah agar manfaatnya lebih optimal bagi masyarakat.

 

 

Maya menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi yang inklusif membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari perbankan, pemerintah, hingga dunia usaha.

 

 

"BNI meyakini bahwa membangun ekonomi kerakyatan bukan hanya tentang memberikan akses pembiayaan, tetapi juga membangun kepercayaan, meningkatkan kapasitas, dan menciptakan peluang. Melalui sinergi dengan pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, kami berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra masyarakat dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045," tutup Maya.

Berita Terbaru