JATIMPEDIA, Surabaya – Industri perhotelan dan pariwisata saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Mulai dari dampak pandemi yang masih terasa, kenaikan biaya operasional, hingga berbagai kebijakan yang memengaruhi aktivitas bisnis perhotelan. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dewan Pengurus Daerah (DPD) IHGM Jawa Timur menggelar workshop bertajuk AI for Hospitality yang menjadi agenda perdana kepengurusan baru periode 2025–2029.
Wakil Ketua DPD IHGM Jawa Timur, Irawan, mengatakan bahwa organisasi yang baru dikukuhkan tersebut ingin menghadirkan program-program yang mampu menjawab kebutuhan industri hospitality saat ini. Menurutnya, pelaku usaha perhotelan membutuhkan berbagai inovasi agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan yang terjadi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri perhotelan saat ini adalah meningkatnya biaya operasional yang tidak selalu diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan. Kondisi tersebut membuat manajemen hotel harus mencari berbagai cara untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada tamu.
“Industri hospitality saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain dampak pandemi yang masih dirasakan beberapa tahun terakhir, kami juga menghadapi berbagai kebijakan yang berdampak pada dunia perhotelan. Karena itu diperlukan solusi dan inovasi agar bisnis tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Melalui workshop AI for Hospitality, IHGM Jawa Timur ingin mendorong para pelaku industri untuk mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam operasional bisnis. Menurut Irawan, AI kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan instrumen penting yang perlu dipahami dan dikuasai oleh pelaku industri perhotelan dan pariwisata.
Pemanfaatan AI dinilai mampu membantu perusahaan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan berbagai biaya operasional. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengotomatisasi sejumlah pekerjaan administratif, meningkatkan pelayanan pelanggan, hingga membantu pengambilan keputusan berbasis data.
“Kehadiran AI bukan ancaman bagi industri perhotelan. Justru AI menjadi salah satu solusi untuk membantu perusahaan mengurangi biaya operasional yang terus meningkat dari tahun ke tahun,” katanya.
Irawan mencontohkan, dalam satu dekade terakhir biaya tenaga kerja mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Di sisi lain, industri perhotelan tidak selalu memiliki ruang untuk menaikkan tarif kamar secara proporsional mengikuti kenaikan biaya tersebut. Akibatnya, efisiensi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Selain faktor biaya operasional, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dalam beberapa waktu terakhir juga disebut memberikan dampak terhadap industri perhotelan. Berkurangnya kegiatan pemerintahan yang biasanya diselenggarakan di hotel berpengaruh terhadap tingkat okupansi dan pendapatan sejumlah hotel.
Meski demikian, ia menyebut kondisi tersebut belum sampai memicu pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Namun sejumlah tenaga kerja harian atau karyawan casual mengalami pengurangan jam kerja karena berkurangnya aktivitas operasional hotel.
“Kalau sampai merumahkan karyawan secara besar-besaran belum. Tetapi untuk tenaga casual atau pekerja harian, jumlah hari kerjanya tentu berkurang karena kegiatan hotel juga menurun,” jelasnya.
Lebih lanjut, Irawan berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan terhadap industri perhotelan dan pariwisata melalui kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan sektor tersebut. Menurutnya, industri perhotelan memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian karena melibatkan banyak sektor usaha lainnya.
Ketika tingkat hunian hotel meningkat, berbagai sektor pendukung seperti pemasok kebutuhan hotel, usaha kuliner, transportasi, hingga penyedia jasa dan hunian juga ikut merasakan dampak positifnya. Karena itu, keberlangsungan industri hospitality dinilai penting untuk menjaga perputaran ekonomi di berbagai daerah.
Di sisi organisasi, Irawan mengungkapkan bahwa kepengurusan baru IHGM Jawa Timur juga akan fokus melakukan pendataan ulang anggota. Pasalnya, organisasi tersebut sempat tidak aktif dalam beberapa tahun terakhir sehingga diperlukan pembaruan data anggota yang saat ini tersebar di berbagai wilayah.
“Kami ingin menghidupkan kembali organisasi ini dan memastikan seluruh anggota dapat berkolaborasi untuk menghadapi tantangan industri ke depan. Melalui forum seperti ini, kami berharap para pelaku perhotelan bisa saling berbagi pengalaman dan solusi,” pungkasnya.
Editor : Taufiq