Arus Peti Kemas TPK Semarang Melonjak 12,2 Persen, Ekspor Jawa Tengah Kian Bergairah

JATIMPEDIA, Semarang  - Arus logistik nasional terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya aktivitas perdagangan Indonesia. Kinerja ekspor dan impor yang tetap tumbuh tercermin dari surplus neraca perdagangan nasional sebesar USD5,64 miliar selama Januari–April 2026.

Kondisi tersebut turut mendorong peningkatan aktivitas distribusi barang melalui pelabuhan, termasuk di Terminal Petikemas (TPK) Semarang.

Peningkatan arus peti kemas di TPK Semarang menjadi salah satu indikator menguatnya aktivitas perdagangan dan industri di Jawa Tengah. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan bahwa pada periode Januari–Mei 2026, arus peti kemas internasional di TPK Semarang mencapai 382.093 TEUs atau tumbuh 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 340.535 TEUs.

Dari total tersebut, sebanyak 192.829 TEUs merupakan peti kemas impor dan 189.162 TEUs peti kemas ekspor. Arus peti kemas impor tumbuh 10,7 persen, sedangkan peti kemas ekspor meningkat 13,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Widyaswendra, pertumbuhan tersebut sejalan dengan perkembangan sektor industri di Jawa Tengah yang terus meningkatkan kebutuhan distribusi barang melalui jalur laut. Tren kenaikan arus peti kemas juga terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, volume peti kemas yang melalui TPK Semarang tercatat 781.841 TEUs, meningkat menjadi 895.904 TEUs pada 2024, dan menembus lebih dari 1 juta TEUs pada 2025.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, PT Pelindo Terminal Petikemas melakukan berbagai penguatan kapasitas operasional. Langkah yang dilakukan antara lain penambahan tambatan dermaga sepanjang 275 meter, perluasan lapangan penumpukan peti kemas, serta penambahan empat unit quay container crane (QCC) guna meningkatkan produktivitas bongkar muat.

"Saat ini empat unit alat baru tersebut masih dalam tahap commissioning and testing untuk memastikan seluruh aspek operasional dan keselamatan terpenuhi. Kami menargetkan alat tersebut segera beroperasi untuk melayani pelanggan," ujar Widyaswendra.

Peningkatan kapasitas pelabuhan dinilai penting untuk menjaga kelancaran arus logistik dan mendukung pertumbuhan ekspor. Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, menilai Pelabuhan Tanjung Emas memiliki peran strategis sebagai pintu gerbang perdagangan internasional bagi pelaku usaha di Jawa Tengah.

Menurut Ade, pembenahan fasilitas dan penambahan peralatan operasional akan memperlancar proses bongkar muat serta mempercepat distribusi barang. "Peran Pelabuhan Tanjung Emas sangat signifikan. Perputaran ekonomi dan logistik berawal dari pelabuhan. Jalur paling mudah dan mendasar untuk ekspor dan impor melalui jalur laut," katanya.

Sejumlah komoditas ekspor yang melalui TPK Semarang antara lain produk kayu, pakaian jadi, alas kaki, serta produk olahan perikanan seperti ikan, krustasea, dan moluska. Sementara itu, komoditas impor didominasi mesin industri, peralatan listrik, kendaraan, dan komponen pendukung industri lainnya.

Meski demikian, pelaku usaha menilai peningkatan kapasitas pelabuhan perlu terus diiringi dengan perbaikan layanan dan konektivitas transportasi. Pengusaha garmen asal Semarang, Deddy Mulyadi, mengatakan bahwa pertumbuhan kawasan industri dan volume distribusi barang harus diimbangi dengan efisiensi layanan pelabuhan untuk mengurangi antrean kapal dan mempercepat pengiriman barang ke pasar ekspor.

"Tanjung Emas memang membantu aktivitas ekspor. Tetapi ritme pergerakan barang belum secepat pelabuhan besar seperti Jakarta atau Surabaya. Kadang masih ada antrean kapal," ujarnya.

Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Bhimo Rizky Samudro, menilai efisiensi pelabuhan peti kemas menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing perdagangan Indonesia. Menurutnya, sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pasar domestik maupun internasional secara cepat dan efisien.

"Pelabuhan peti kemas merupakan infrastruktur strategis bagi perdagangan Indonesia. Ketika pelabuhan bekerja secara efisien, distribusi barang menjadi lebih cepat dan daya saing produk nasional juga meningkat," jelasnya.

Selain pembangunan infrastruktur fisik, penguatan sistem logistik juga memerlukan transformasi digital untuk mempercepat layanan, meningkatkan akurasi proses operasional, serta menekan biaya distribusi. Dengan pertumbuhan arus peti kemas yang terus meningkat, pengembangan kapasitas dan modernisasi layanan di TPK Semarang menjadi langkah penting untuk mendukung kelancaran perdagangan dan menjaga momentum pertumbuhan ekspor Indonesia

Berita Terbaru