JATIMPEDIA, Jakarta - PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) menyiapkan strategi ekspansi pasar dan diversifikasi produk guna menjaga pertumbuhan bisnis pada 2026. Emiten manufaktur furnitur dan produk kayu ini menargetkan penjualan tumbuh 5%-10% meski pasar ekspor utama, Amerika Serikat (AS), masih menghadapi perlambatan permintaan.
Direktur WOOD, Wang Sutrisno, mengatakan perseroan memilih pendekatan yang lebih terukur dalam menyusun target tahun ini, dengan fokus pada peluang pertumbuhan dari pasar nontradisional dan lini produk baru.
"Kami melihat masih terdapat ruang pertumbuhan yang cukup baik, terutama dari pengembangan produk baru dan penguatan pasar ekspor di luar Amerika Serikat," ujar Wang.
Untuk mendukung target tersebut, WOOD akan memperluas portofolio produk melalui peluncuran flooring (lantai kayu) dan outdoor furniture. Kedua produk tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang besar serta mampu mempercepat siklus penjualan dibandingkan produk furnitur konvensional.
Selain inovasi produk, perseroan juga memperkuat penetrasi ke kawasan Eropa dan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS yang selama beberapa tahun terakhir menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan.
Strategi diversifikasi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang 2025, penjualan WOOD ke kawasan Eropa melonjak lebih dari enam kali lipat menjadi Rp242,1 miliar. Pertumbuhan itu berlanjut pada kuartal I-2026 dengan penjualan mencapai Rp112,7 miliar atau meningkat lebih dari 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar domestik juga mulai memberikan kontribusi yang lebih baik. Pada tiga bulan pertama 2026, penjualan dalam negeri tumbuh signifikan menjadi Rp31,6 miliar.
Meski demikian, kinerja perusahaan sepanjang 2025 masih tertekan akibat melemahnya permintaan dari pasar AS. Penjualan bersih WOOD tercatat Rp2,63 triliun, turun 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut berdampak pada laba bersih yang terkoreksi menjadi Rp65 miliar dari Rp155 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha turun menjadi Rp289 miliar dan EBITDA tercatat Rp383 miliar.
Menurut Wang, tantangan terbesar masih berasal dari pasar Amerika Serikat yang menyumbang lebih dari 80% total pendapatan perusahaan. Penjualan ke negara tersebut turun 14,2% menjadi Rp2,16 triliun sepanjang 2025.
Di tengah tekanan tersebut, WOOD masih mampu menjaga fundamental bisnis dengan membukukan pertumbuhan aset sebesar 2,1% menjadi Rp8 triliun. Kinerja juga ditopang oleh segmen building component yang mencatatkan penjualan Rp2,24 triliun atau tumbuh 13,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp722,4 miliar dengan laba bersih Rp28,6 miliar. Segmen ekspor building component tetap menjadi tulang punggung bisnis dengan kontribusi lebih dari 85% terhadap total pendapatan kuartalan.
Ke depan, manajemen akan terus menjalankan program efisiensi dan optimalisasi portofolio bisnis untuk menjaga margin keuntungan sekaligus memperkuat daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Kami akan terus menjaga efisiensi operasional dan mengembangkan pasar baru agar pertumbuhan bisnis dapat berlanjut secara berkelanjutan," kata Wang.
Editor : Rizky
URL : https://jatimpedia.id/news-17047-bidik-ekspor-wood-bidik-penjualan-tumbuh-10-pada-2026