Rupiah Melemah, Honda dan Toyota Masih Tahan Harga Mobil

JATIMPEDIA, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menembus level Rp17.600 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran di industri otomotif nasional. Kondisi ini dinilai berpotensi mempengaruhi biaya produksi kendaraan, terutama untuk aktivitas impor serta penggunaan komponen dan bahan baku yang masih bergantung pada mata uang dolar AS.

Meskipun demikian, sejumlah produsen otomotif mengaku saat ini masih menahan harga jual kendaraan sambil terus memantau perkembangan nilai tukar.

Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengakui bahwa pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap industri otomotif, baik untuk aktivitas impor maupun komponen dan bahan baku produksi dalam negeri yang masih terdampak pergerakan dolar AS.

“Nilai tukar memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi industri otomotif, sehingga pelemahan rupiah saat ini tentu memberikan tekanan, baik untuk aktivitas impor maupun beberapa komponen dan bahan baku produksi dalam negeri yang masih terdampak pergerakan dolar AS,” ujar Billy kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Namun, Billy menjelaskan bahwa sebagian besar model Honda yang diproduksi di Indonesia saat ini sudah memiliki kandungan lokal yang cukup tinggi, sehingga dapat membantu mengurangi dampak langsung dari pelemahan rupiah.

Ia menambahkan bahwa Honda hingga saat ini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga kendaraan. Perusahaan akan terus memonitor perkembangan kondisi pasar dan nilai tukar ke depan.

Hal senada disampaikan oleh Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma. Menurutnya, Toyota masih terus memantau pergerakan nilai tukar sebelum mengambil keputusan terkait harga kendaraan.

“Kita terus akan monitor pergerakan. Yang pastinya adalah seperti yang kami sampaikan, kami sebagai Toyota Indonesia, diler, distributor, kemudian manufacturer, dan juga supplier, ingin meminimalisir dampak ini,” ujar Bansar saat ditemui di Jakarta Pusat.

Bansar menyatakan bahwa Toyota berharap nilai tukar dolar dapat kembali stabil sehingga dampaknya terhadap industri otomotif tidak terlalu besar. Ia juga mengungkapkan bahwa Toyota saat ini terus berdiskusi dengan berbagai pihak di rantai industri untuk mencari langkah efisiensi guna menekan dampak pelemahan rupiah.

“Kita sebetulnya memang juga mencoba berdiskusi dengan semua pihak, semua stakeholder dalam bagaimana kita menyiapkan kendaraan, kita juga melakukan banyak efisiensi untuk bagaimana bisa menanggulangi kenaikan tersebut,” ujar dia.

Meski demikian, Toyota belum dapat memastikan apakah pelemahan rupiah akan berujung pada penyesuaian harga kendaraan di Indonesia. Bansar menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah bagaimana meminimalisir dampak yang terjadi pada konsumen.

Pelemahan rupiah sendiri berpotensi memengaruhi industri otomotif karena sebagian komponen kendaraan masih menggunakan bahan baku impor dan transaksi berbasis dolar AS. Selain itu, perubahan kurs juga dapat berdampak pada biaya logistik dan suku cadang kendaraan.

 

Berita Terbaru