JATIMPEDIA, Jakarta – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa target penjualan mobil nasional sebesar 850.000 unit pada tahun 2026 masih tetap berlaku, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami fluktuasi dalam beberapa pekan terakhir.
Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengungkapkan bahwa pergerakan kurs yang naik turun memiliki dampak berlapis bagi industri otomotif. Namun, ia berharap kondisi tersebut tidak berimbas pada harga kendaraan di pasar domestik sehingga target penjualan yang telah ditetapkan tidak perlu direvisi.
"Masih tetap 850.000 unit," ujar Jongkie saat dihubungi di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Nilai tukar rupiah pada Senin (15/6) tercatat menguat 82 poin atau 0,46 persen ke level Rp17.778 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.860 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah di kisaran Rp18.000 lebih per dolar AS. Pada Rabu sore, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.758 per dolar AS.
Jongkie menjelaskan bahwa penguatan rupiah memberikan banyak dampak positif bagi produk-produsen otomotif, terutama dalam menghindari penyesuaian harga kendaraan.
"Kami sangat senang akan penguatan rupiah, karena banyak dampak positifnya terhadap produk-produk otomotif, produsen tidak perlu menyesuaikan harga," ucapnya.
Menurut Jongkie, kondisi penguatan mata uang domestik dapat membantu pelaku industri menjaga daya beli masyarakat, yang pada gilirannya berpotensi mendorong peningkatan penjualan kendaraan, pertumbuhan produksi, serta menjaga keberlangsungan tenaga kerja di sektor otomotif.
"Pastinya ini adalah angin segar, mudah-mudahan angka penjualan bisa meningkat, produksi bertambah, tidak perlu ada PHK (pemutusan hubungan kerja), dan lain-lain," kata Jongkie.
Dengan target yang tidak berubah tersebut, industri otomotif berharap momentum penguatan rupiah dapat menjadi faktor pendukung bagi pencapaian penjualan kendaraan nasional sepanjang 2026.
Editor : Taufiq