55 Juta Ton Produksi Semen Nasional Belum Laku Dijual

JATIMPEDIA, Jakarta -  Industri semen nasional masih menghadapi tekanan berat di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih. Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) mencatat 55,5 juta ton semen masih menumpuk di gudang pabrik dan belum terserap.

Kondisi itu dikarenakan pertumbuhan permintaan yang masih terbatas, disertai penurunan tingkat utilisasi pabrik yang cukup dalam hingga ke level di bawah 60%."Utilisasi turun menjadi 53,9%. Jadi ini tantangan kita," ujar Ketua Umum Asperssi Lilik Unggul Raharjo.

Meski demikian, data tersebut masih dalam proses validasi internal untuk memastikan akurasi sebelum menjadi rujukan kebijakan dan pelaporan resmi.

Tekanan biaya logistik dan ketidakpastian global membuat pasar ekspor tradisional, seperti Bangladesh dan Sri Lanka, mulai menahan permintaan, berdampak langsung pada penyerapan produksi dalam negeri.

Dikatakan,  industri semen nasional juga dihadapkan pada tantangan struktural berupa kelebihan kapasitas. Dengan utilisasi yang rendah, efisiensi menjadi isu krusial yang harus segera diatasi.

Namun di balik tekanan jangka pendek, industri mulai mengarahkan strategi jangka panjang menuju keberlanjutan. Asperssi telah menyusun peta jalan dekarbonisasi yang menargetkan emisi nol bersih pada 2050.

"Di roadmapnya Asperssi kita menargetkan di 2050 nanti ada net zero emission dengan beberapa langkah pathway," ujar Lilik. 

Sementara itu Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Christian Kartawijaya, mengungkapkan kondisi industri yang belum sepenuhnya pulih, bahkan cenderung tertekan akibat ketidakseimbangan antara kapasitas dan kebutuhan pasar.

Permintaan semen, terutama di segmen curah, mengalami penurunan signifikan. Hal ini tidak terlepas dari melambatnya proyek infrastruktur yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi semen.

"Semen kantong tumbuhnya flat, tapi semen curahnya yang anjlok 8,3%, sebabnya karena salah satunya infrastruktur kita dari Rp400-an triliun menjadi hanya Rp85 triliun. Ya, dan ini diikuti dengan berbagai pembangunan yang sedikit melambat dan tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi," katanya.

Penurunan ini berdampak langsung pada utilisasi pabrik yang kini berada di level rendah. Dengan kapasitas yang berlebih, banyak fasilitas produksi tidak beroperasi optimal.

"Nah saat ini kita sudah over supply ya, 55 juta ton," ujar Christian.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya tambahan kapasitas baru di tengah pasar yang belum pulih. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan industri secara keseluruhan.

"Unfortunately ada satu tambahan lagi pabrikan semen yang lagi dibangun 4 juta ton," sebutnya.

Namun, tantangan tidak hanya datang dari sisi permintaan. Gangguan pasokan bahan baku seperti batu split juga sempat memukul industri, menyebabkan penurunan tajam pada penjualan semen curah.

Kenaikan biaya produksi menjadi tekanan berikutnya. Harga energi yang melonjak berdampak langsung pada operasional, termasuk aktivitas penambangan dan distribusi.

"Industrial fuel saat ini naik mungkin di atas 50 sampai 70%," sebutnya.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri juga mulai memperbarui kapasitas produksi nasional. Penyesuaian angka kapasitas dinilai penting untuk mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Di sisi permintaan, awal 2026 memberikan sedikit angin segar meski belum sepenuhnya mengembalikan kondisi seperti dua tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi, terutama didorong oleh proyek infrastruktur pemerintah, namun belum cukup kuat untuk menutup kesenjangan (gap) permintaan dibandingkan periode sebelum 2025.

"Kalau kita lihat Januari-Maret 2026 dibandingkan periode yang sama 2025 memang ada pertumbuhan. Tapi kalau dibandingkan 2024 masih di bawah. Ada pertumbuhan 5,3% dibandingkan tahun lalu," jelas dia.

Berita Terbaru