Pengamat Prediksi BI Masih Pertahankan Suku Bunga Acuan di 4,75%

JATIMPEDIA, Jakarta - Kalangan ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di angka 4,75�lam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026.

 
Ekonom Senior Associate Faculty Lembaga Pengembang Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto mengatakan dari sisi perekonomian dalam negeri inflasi tahunan sudah mencapai 3,55% pada Januari 2025. Sementara itu nilai tukar rupiah sedang berada dalam kondisi tertekan karena terdampak tekanan perekonomian global.

“Pilihan terbaik yang tersedia adalah BI Rate ditahan di level 4,75%. Namun stance pro growth tetap diupayakan melalui pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran,” ucap Ryan pada Rabu(18/2/2026).

Bila dilihat secara musiman maka Inflasi bulanan dan tahunan cenderung meningkat saat momentum Ramadan dan Lebaran. Pasalnya terjadi kenaikan secara bersamaan dari sisi  penawaran (cost push inflation) maupun sisi  permintaaan (demand pull inflation). Ruang penurunan BI-Rate masih terbuka pasca perayaan Lebaran.

“Ruang pertumbuhan juga masih bisa ditopang oleh relaksasi kebijakan fiskal berupa penyediaan stimulus libur panjang sebesar Rp 12 triliun dan akselerasi serapan belanja pemerintah,” kata Ryan.

Sebelumnya dalam RDG pada 20-21 Januari 2026, BI  memutuskan untuk tetap menjaga  suku bunga acuan pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75�n suku bunga Lending Facility  sebesar  5,5%.  Sejak September 2024, BI-Rate telah turun sebesar 150 basis poin, yaitu 25 bps pada September 2024 dan 125 basis poin selama tahun 2025 menjadi 4,75% hingga Desember 2025, yang merupakan level terendah sejak tahun 2022.

 Sependapat dengan Ryan, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75�lam RDG bulan ini. Pasalnya BI masih harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko pasar keuangan yang meningkat.

“Dalam konteks ini, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor daripada pelonggaran moneter dalam jangka pendek,” tutur Josua.

Menurut dia, tekanan  perekonomian timbul akibat peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai isu free float. Pada saat yang sama  terjadi revisi oleh lembaga pemeringkat Moody's terhadap prospek utang negara Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat.

“Ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik,” terang Josua.

Berita Terbaru