JATIMPEDIA, Jakarta – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menegaskan bahwa industri otomotif nasional akan mengikuti arah dan kebijakan pemerintah, terutama terkait wacana pemberian insentif untuk mendorong penjualan mobil yang hingga akhir 2025 masih belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Ketua I GAIKINDO, Jongkie Sugiarto, mengatakan pelaku industri menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk menentukan kebijakan terbaik demi menjaga keberlangsungan sektor otomotif nasional.
“Kita serahkan ke pemerintah apa yang terbaik buat kita. Industri otomotif, penjualan, dan lain sebagainya,” ujar Jongkie.
Ia berharap, memasuki tahun 2026, pasar otomotif nasional bisa kembali bergairah dengan dukungan kebijakan yang berpihak pada pemulihan industri. Menurutnya, pemerintah juga memiliki kepentingan besar untuk menjaga agar sektor ini tidak terpuruk, mengingat kontribusinya terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja.
“Kita yakin pemerintah pasti memberikan yang terbaik untuk ini. Karena mereka juga tidak mau industrinya terpuruk. Pesannya selalu sama, jangan sampai terjadi PHK,” lanjutnya.
Data GAIKINDO menunjukkan, secara kumulatif penjualan wholesales kendaraan pada Januari hingga November 2025 mencapai 710.084 unit. Angka tersebut turun 9,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mampu menembus 785.917 unit.
Sementara itu, penjualan ritel selama 11 bulan tahun ini tercatat sebanyak 739.977 unit. Capaian tersebut juga mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 807.586 unit.
Sebelumnya, GAIKINDO sempat mematok target penjualan mobil nasional sebesar 900 ribu unit sepanjang 2025. Namun, seiring tekanan pasar yang terus berlanjut, target tersebut direvisi menjadi sekitar 780 ribu unit hingga akhir tahun.
Pelaku industri menilai, tanpa adanya stimulus tambahan, pasar otomotif nasional masih akan menghadapi tantangan berat, terutama di tengah tekanan daya beli masyarakat dan ketatnya pembiayaan kendaraan.
Editor : Taufiq