JATIMPEDIA, Jakarta – Menjelang akhir 2025, pasar otomotif Indonesia bergerak semakin dinamis dengan pola permintaan yang kian kompleks. Perubahan preferensi konsumen serta kondisi ekonomi membuat produsen otomotif dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki strategi jangka panjang yang visioner.
Data GAIKINDO kuartal III 2025 yang dikombinasikan dengan analisis PwC Indonesia menunjukkan terjadinya pergeseran struktur permintaan. Sejumlah segmen mengalami pelemahan, sementara segmen lain tetap bertahan bahkan mencatat pertumbuhan. Kondisi ini mencerminkan konsumen yang semakin selektif dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, menilai bahwa keputusan membeli mobil di Indonesia kini bersifat multidimensional. Kendaraan tidak lagi sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari peningkatan kualitas hidup. Filosofi Mazda yang mengusung joy of driving sebagai bagian dari joy of living dinilai sejalan dengan perubahan perilaku konsumen tersebut.
Mazda melihat preferensi konsumen bergerak pada dua poros utama, yakni kebutuhan rasional dan aspirasi emosional. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif pada kuartal III 2025, Mazda mampu menjaga kinerja yang relatif stabil. Penurunan pangsa pasar pada Oktober 2025 tercatat hanya 0,12 persen, lebih rendah dibanding koreksi beberapa merek Jepang lain yang mencapai 2–3 persen.
Pada level penjualan ritel, kontraksi Mazda juga terbilang terkendali dibandingkan kompetitor di segmen premium. Kinerja ini ditopang oleh model andalan seperti CX-5, CX-3, dan Mazda 3 Hatchback yang tetap diminati konsumen.
Ricky menekankan bahwa daya tarik emosional menjadi salah satu kekuatan utama Mazda. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek rasional, tetapi juga desain, kenyamanan, serta kualitas berkendara yang ditawarkan.
Dalam proses pembelian, konsumen Indonesia kini semakin rasional dengan memperhitungkan Total Ownership Cost (TOC), mulai dari biaya servis, perawatan, administrasi, hingga nilai jual kembali. Namun, pertimbangan tersebut berjalan beriringan dengan faktor lain seperti regulasi, kondisi industri, kesiapan infrastruktur, serta nilai personal masing-masing konsumen.
Mazda memadukan rasionalitas tersebut dengan nilai emosional melalui filosofi KODO Design dan Jinba Ittai, yang memposisikan kendaraan sebagai partner berkendara, bukan sekadar alat transportasi. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, aspek kenyamanan, desain, dan pengalaman berkendara menjadi pembeda penting, seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Menatap 2026, Mazda memproyeksikan pemulihan industri otomotif secara bertahap. Semester pertama diperkirakan masih cenderung stabil, sementara akselerasi pasar berpotensi terjadi pada paruh kedua tahun. Strategi Mazda akan difokuskan pada segmentasi yang lebih presisi, penguatan kapabilitas tenaga penjual, serta peluncuran sejumlah model baru yang mayoritas berada di segmen SUV.
Komitmen jangka panjang Mazda juga ditunjukkan melalui pembangunan Training Center baru untuk memperkuat ekosistem penjualan hingga layanan purna jual. Mazda menegaskan posisinya bukan sekadar produsen kendaraan, tetapi sebagai merek yang menawarkan filosofi, pengalaman, serta keseimbangan antara logika dan emosi dalam kepemilikan mobil di Indonesia.
Editor : Taufiq