Jadi Miniatur Indonesia Multietnis, Banyuwangi Gelar Festival Kebangsaan

JATIMPEDIA, Banyuwangi - Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan identitasnya sebagai miniatur Indonesia lewat gelaran Festival Kebangsaan yang digelar di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Festival ini merayakan keberagaman suku dan etnis yang telah lama hidup berdampingan di Bumi Blambangan.

Dikenal sebagai daerah multikultur, Banyuwangi dihuni oleh berbagai etnis, mulai dari suku asli Osing, hingga Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Bali, Tionghoa, dan Arab. Keragaman ini menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang mencerminkan wajah kebhinekaan Indonesia dalam skala kecil.

“Festival Kebangsaan ini menjadi simbol bahwa keberagaman adalah kekuatan Banyuwangi. Kita hidup rukun, guyub, dan saling menghormati sebagai satu saudara,” ujar Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono saat membuka Festival Kebangsaan, Sabtu (23/11/2025).

Festival berlangsung meriah dengan pertunjukan seni budaya dari berbagai etnis yang menetap di Banyuwangi. Di antaranya Barongsai, tari Tanduk Majeng, sendratari Kembang Sak Ronce, hingga tarian kolaborasi Mandar–Jawa–Madura yang menggambarkan harmoni budaya.

“Kegiatan ini mengingatkan kita semua bahwa perbedaan bukan penghalang. Banyuwangi adalah contoh nyata bagaimana keberagaman budaya bisa bersatu membangun keharmonisan,” ucap Mujiono.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Banyuwangi, Agus Mulyono, menambahkan bahwa Festival Kebangsaan tahun ini menekankan Trilogi Pemuda, Suku, dan Budaya sebagai tiga elemen penting pembentuk identitas bangsa. Ketiganya dinilai menjadi fondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang inklusif.

Untuk memperkuat peran generasi muda, acara juga diwarnai dengan berbagai kompetisi, seperti Lomba Band Kebangsaan bagi pelajar SD dan SMP serta Lomba Video Kebangsaan untuk pelajar SMA. Lomba ini menjadi wadah bagi pemuda mengekspresikan pandangan mereka tentang persatuan dan kebhinekaan.

Melalui Festival Kebangsaan, Banyuwangi menegaskan diri sebagai daerah yang merawat keberagaman sekaligus memperlihatkan kepada Indonesia bahwa hidup berdampingan dalam perbedaan bukan hanya mungkin, tetapi telah menjadi kenyataan sehari-hari di Bumi Blambangan.

Berita Terbaru