Mengintip Aktifitas Dapur Haji di Arafah Siapkan 3 Ribu Porsi Tiap Waktu Makan

JATIMPEDIA, Makkah – Untuk menghindari keterlambatan, paket konsumsi bagi jemaah harus sudah siap tiga jam sebelum waktu makan. Memasaknya bukan dengan elpiji karena rawan di tengah situasi terik, melainkan kayu bakar yang disiapkan di dapur haji.

Suara yang bersumber dari tungku pengapian tak pernah absen keluar dari atap tenda berwarna putih di maktab 94 Arafah sejak Jumat (14/6) dini hari hingga Sabtu (15/6) siang.

Empat pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Mengenakan seragam serbahitam, sebagian mengecek nasi yang tengah dimasak. Sebagian lagi sedang mengepak paket makanan ke dalam kotak berbahan aluminium foil. Di atasnya terdapat penutup dari kertas yang di salah satu sudutnya bertulisan ”makan siang”.

Baca Juga  Menag Ancam Cabut Izin Travel Yang Berikan Non Visa Haji

Di sudut lain, sejumlah pekerja lain sedang mempersiapkan bahan minuman bagi jemaah. Mulai kopi, teh, gula, hingga air panas yang ditempatkan dalam dispenser. Bahan-bahan itu didistribusikan ke masing-masing halaman tenda yang ada di maktab tersebut.

”Seluruh makanan ini sudah harus siap sebelum jam 06.00. Sebab, mulai pukul 08.00, para jemaah sudah datang ke Arafah,” kata Nuralim, salah satu petugas di dapur itu.

Nuralim tidak bertugas sendiri. Di maktab lain juga berdiri dapur khusus untuk menyediakan konsumsi bagi para jemaah yang bersiap-siap menjalankan wukuf di Arafah pada Sabtu (15/6) siang hingga menjelang petang. Total, ada 73 maktab yang diperuntukkan bagi para jemaah Indonesia selama persiapan hingga pelaksanaan wukuf.

Baca Juga  Tidak Hanya Orang Asing, Warga Arab Saudi Juga Dibatasi Berhaji

Tugas para personel di dapur khusus yang berdiri di tiap maktab itu tidak ringan. Mereka harus menyiapkan sedikitnya 3 ribu porsi per waktu makan di tiap harinya.

Kewajiban personel di tiap dapur itu tidak terlepas dari kebijakan baru yang dibuat Kementerian Agama (Kemenag) melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pada musim haji 2024. Para jemaah haji Indonesia mendapat jatah konsumsi secara penuh selama pelaksanaan ibadah puncak haji di Armuzna yang dimulai 8–13 Zulhijah (14–19 Juni).

Di musim-musim haji sebelumnya, para jemaah tidak mendapatkan jatah konsumsi penuh. Itu akibat sulitnya pendistribusian konsumsi mengingat padatnya kawasan Arafah saat hari tasyrik. Sebagai gantinya, setiap jemaah diberi jatah uang konsumsi pada hari-hari tanpa kiriman konsumsi.

Baca Juga  Kacang Arab Suguhan Tamu Haji, Ternyata Asli Daerah Ini

Tidak mudah merealisasikan pemberian konsumsi rutin selama masa Armuzna. Sampai akhirnya muncul ide baru: menyediakan makanan siap saji yang awet. Sebelum para jemaah berangkat menuju Arafah, tim konsumsi sudah mengirim paket lauk yang sudah dikemas dalam boks. Jumlahnya disesuaikan dengan jatah makan setiap jemaah selama di Arafah.

Setiap kali sebelum diberikan kepada jemaah, paket lauk itu dipanasi. Sedangkan untuk nasinya dimasak di dapur-dapur maktab. Jika sudah matang, petugas tinggal menaruh nasi di kotak-kotak tersebut. (cin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *