JATIMPEDIA, Jember - Ketika sebagian besar mahasiswa seusianya masih sibuk mengejar nilai kuliah dan memikirkan tugas semester, Raden Muh Abror Ikonansyah justru sedang bernegosiasi dengan pembeli dari luar negeri. Di usia 22 tahun, mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) itu berhasil menembus pasar ekspor Timur Tengah melalui bisnis arang kayu yang dirintisnya dari nol.
Namun perjalanan Ikon, sapaan akrabnya, tidak dimulai dari ruang bisnis atau keluarga pengusaha besar. Pemuda asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, itu justru mengawali langkahnya dengan sebuah kekecewaan: gagal masuk Fakultas Kedokteran, jurusan yang sejak awal menjadi impiannya.
Baca juga: BPBD Jember Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
“Awalnya saya ingin masuk Kedokteran karena disarankan ayah. Setelah tidak lolos, saya diterima di Biologi dan akhirnya saya jalani,” kenangnya.
Meski menerima kenyataan tersebut, Ikon mengaku sempat merasa belum mampu memberikan kebanggaan kepada kedua orang tuanya. Memasuki semester empat, ia mulai mempertanyakan apa yang bisa ia lakukan agar keberadaannya di bangku kuliah memiliki nilai lebih.
Perasaan itulah yang mendorongnya mencoba berwirausaha. Ia memberanikan diri mengimpor pod vape dari Malaysia. Sayangnya, usaha pertamanya berakhir kurang manis. Produk yang didatangkan tidak laku sesuai harapan.
Alih-alih menyerah, kegagalan itu justru membuka jalan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Suatu hari, Ikon menemukan berbagai konten tentang eksportir Indonesia di media sosial. Rasa penasaran membuatnya terus mencari informasi. Berbekal ponsel dan koneksi internet, ia belajar secara mandiri melalui YouTube, TikTok, hingga berbagai seminar daring.
“Waktu itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ekspor. Saya hanya tertarik setelah melihat konten-konten eksportir di media sosial dan mulai mencari tahu lebih dalam,” ujarnya.
Titik balik terjadi ketika ia menghadiri seminar ekspor di Sidoarjo. Dari sana, ia mulai memahami bagaimana perdagangan internasional bekerja sekaligus membangun relasi dengan para eksportir, produsen, dan perusahaan logistik.
Dunia yang sebelumnya terasa jauh perlahan menjadi semakin nyata.
Dari berbagai komoditas yang dipelajari, Ikon tertarik pada arang kayu. Awalnya ia mencoba menembus pasar briket arang untuk kebutuhan shisha di Timur Tengah. Bahkan, kesempatan besar sempat datang ketika calon pembeli dari Lebanon menunjukkan minat untuk membeli empat kontainer dengan nilai transaksi yang sangat besar.
Namun kesempatan itu harus dilepaskan.
Produk dari pemasok tidak memenuhi standar yang diminta pembeli. Di tengah potensi keuntungan besar yang sudah di depan mata, Ikon memilih membatalkan transaksi.
“Lebih baik batal daripada merusak kepercayaan pembeli,” katanya.
Baca juga: JKCI 2026 Perkuat Hilirisasi Tembakau dan Promosikan Pariwisata Jember
Keputusan itu menjadi pelajaran berharga tentang integritas dalam bisnis.
Tak lama kemudian, keberuntungan datang dari arah yang tak terduga. Video aktivitas produksi arang yang diunggahnya di TikTok menarik perhatian seorang calon pembeli dari Dubai. Percakapan yang awalnya berlangsung sederhana di media sosial kemudian berkembang menjadi kerja sama bisnis yang nyata.
Namun kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Calon pembeli terlebih dahulu memverifikasi legalitas usaha Ikon melalui Kedutaan Besar Indonesia sebelum akhirnya sepakat melakukan transaksi.
Bagi Ikon, momen tersebut menjadi bukti bahwa kejujuran dan keseriusan dapat membuka pintu yang sebelumnya tampak mustahil.
Perlahan bisnisnya berkembang. Ia mendirikan PT Dekon Global Indonesia dan mulai mengirimkan arang kayu ke Arab Saudi serta Dubai. Tanpa gudang besar, tanpa pabrik sendiri, dan tanpa modal berlimpah, Ikon menjalankan bisnis dengan sistem sederhana: mencari pesanan terlebih dahulu, lalu berkoordinasi dengan produsen untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Di balik pencapaian itu, tantangan tetap datang silih berganti. Salah satunya ketika pembeli di Dubai mengeluhkan kualitas produk yang diterima tidak sesuai spesifikasi.
Alih-alih mencari alasan, Ikon memilih bertanggung jawab. Ia menawarkan penggantian satu kontainer secara gratis demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Baca juga: Puncak JFC 2026, Para Putri Indonesia Tampil Memukau di Hadapan Masyarakat
“Dalam bisnis ekspor yang paling penting adalah kejujuran dan amanah. Kepercayaan jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat,” tegasnya.
Kini, di sela kesibukan mengurus pengiriman internasional, Ikon masih menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa semester enam. Akhir pekan sering kali digunakan untuk mengurus bisnis, sementara hari-hari lainnya tetap diisi dengan aktivitas akademik.
Dukungan keluarga yang dulu belum sepenuhnya mengerti apa yang ia kerjakan kini berubah menjadi kebanggaan. Bahkan ketika sang ayah menyarankan membeli mobil untuk menunjang usaha, Ikon memilih menahan diri. Sebagian hasil usahanya digunakan untuk membantu keluarga, masyarakat sekitar, dan ditabung untuk mewujudkan impiannya melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister.
Bagi Ikon, kesuksesan bukan sekadar soal omzet atau jumlah kontainer yang berhasil dikirim ke luar negeri. Ada kebahagiaan yang lebih besar ketika ia melihat orang tuanya bangga dan mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Ke depan, ia bercita-cita memperluas pasar ekspornya ke Eropa dan Australia. Namun apa pun pencapaian yang diraih nanti, satu hal yang selalu ia pegang adalah keberanian untuk terus belajar.
“Kalau ada yang meremehkan, tidak usah didengarkan. Fokus saja pada tujuan. Ilmu bisa ditiru, tetapi rezeki setiap orang berbeda,” ujarnya.
Dari seorang mahasiswa yang gagal mewujudkan cita-cita menjadi dokter, Ikon membuktikan bahwa jalan hidup kadang membawa seseorang ke tujuan yang sama sekali tidak direncanakan. Dan dari Pulau Bawean hingga pasar internasional, ia menunjukkan bahwa mimpi besar bisa lahir dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan bangkit setelah gagal.
Editor : Rofiq