JATIMPEDIA, Sumenep - Keberadaan garam impor dinilai masih menjadi tantangan besar bagi petani garam rakyat di Kabupaten Sumenep, Madura.
Masuknya garam dari luar negeri dengan harga yang lebih rendah membuat produk lokal kesulitan bersaing dan menembus pasar nasional.
Baca juga: MYZE Hotel Sumenep Siapkan Promo Kemerdekaan
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep, Edie Ferrydianto menuturkan, bahwa disparitas harga antara garam impor dan garam hasil produksi petani lokal menjadi persoalan utama yang hingga kini belum terselesaikan.
“Selama impor masih ada, garam rakyat akan sulit bersaing. Harga garam impor berkisar Rp700 hingga Rp800 per kilogram, sementara garam rakyat berada di kisaran Rp1.900 sampai Rp2.000,” ujarnya, Sabtu (30/5).
Menurut Edie, upaya mewujudkan swasembada garam tidak cukup hanya dengan meningkatkan volume produksi.
Baca juga: PLN Bergerak ke Pulau Gili Iyang, Pastikan Tak Ada Gangguan Listrik Saat HUT RI
Pemerintah pusat juga perlu memastikan adanya perlindungan terhadap harga garam rakyat serta jaminan penyerapan hasil panen petani.
“Kami berharap ada regulasi yang benar-benar berpihak kepada petani garam dan mampu mengurangi ketergantungan impor,” katanya.
Ia menegaskan, garam merupakan kebutuhan strategis yang digunakan oleh berbagai sektor, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga industri farmasi dan manufaktur.
Baca juga: Pemkab Sumenep Siapkan Insinerator, Residu Sampah Sapeken Tak Lagi Dibawa ke Daratan
Oleh karena itu, keberlangsungan usaha petani garam rakyat harus menjadi perhatian dalam kebijakan pemerintah.
“Semua industri membutuhkan garam. Jadi pemerintah harus hadir untuk membangkitkan kembali semangat petani garam lokal,” ucapnya.
Editor : Taufiq