BI Malang Gelar Arcofest Untuk Revitalisasi Kebun Kopi Rakyat

Reporter : Rizky
eputi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Malang, Dedi Prasetyo dalam Media Briefing Artcofest dan MFW 2025 di Ombe Kofie Araya

JATIMPEDIA, Malang - Di balik gemuruh festival kopi Arcofest 2025 yang akan digelar Bank Indonesia (BI) Malang awal November mendatang, tersimpan pesan penting, memperkuat akar ekonomi kopi rakyat. 

Deputi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Malang, Dedi Prasetyo, mengingatkan bahwa 98,43 persen dari 1,26 juta hektare kebun kopi di Indonesia merupakan milik rakyat  sumber utama 99,5 persen produksi kopi nasional.

Baca juga: Disparbud Malang Beri Dua Desa Wisata Perkuat Pengelolaan Pariwisata


“Artinya, hampir seluruh kopi Indonesia lahir dari tangan petani kecil Tapi sayangnya, produktivitasnya baru sekitar 0,6 ton per hektare. Angka ini belum tinggi, jadi memang perlu revitalisasi di sektor hulunya,” ujar Dedi dalam Media Briefing Artcofest dan MFW 2025 di Ombe Kofie Araya.

Revitalisasi yang dimaksud, kata Dedi, mencakup perbaikan cara budidaya di kebun rakyat agar hasil panen meningkat dan mutu kopi lebih konsisten. Inilah yang menjadi salah satu fokus Arcofest tahun ini adalah mempertemukan pengetahuan, praktik, dan peluang pasar dalam satu wadah. 

“Lewat acara seperti Arcofest, kita ingin memperkuat sisi produksi, bukan hanya hura-huranya kopi di hilir,” ucapnya.

Secara nasional, Dedi mencatat, provinsi dengan lahan kopi terluas adalah Sumatera Selatan (267 ribu hektare), disusul Lampung (152 ribu hektare), Aceh (113 ribu hektare), dan Sumatera Utara (98 ribu hektare). Jawa Timur menempati posisi kelima dengan total 91.309 hektare kebun kopi 75 ribu di antaranya milik rakyat dan 12 ribu milik PTPN.

Namun, dari sisi produksi, posisi Jawa Timur turun ke peringkat keenam, di bawah Bengkulu. 

“Luas kebunnya mirip, tapi produksi Bengkulu lebih tinggi. Artinya produktivitas Jatim masih rendah. Ini pekerjaan rumah besar,” kata Dedi.

Meski begitu, ia menilai tren ekspor kopi Indonesia menunjukkan arah positif. Data BI mencatat, dari 2018 hingga 2023 volume ekspor kopi relatif stabil, tetapi nilainya meningkat tajam. Pada 2018, ekspor senilai 815 juta dolar AS dengan volume 279 ribu ton, sementara pada 2023 nilainya naik signifikan meski volumenya hampir sama. 

Baca juga: Gempa di Jatim Cukup Intens, BMKG Ungkap Penyebabnya

“Kenaikan ini menunjukkan harga kopi global meningkat. Ini peluang besar bagi petani Indonesia untuk masuk pasar ekspor,” jelasnya.

Menariknya, negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia bukan hanya Amerika Serikat atau Italia, melainkan juga Mesir. 

“Saya juga baru tahu ternyata Mesir jadi pasar nomor dua setelah Amerika,” ujar Dedi sambil tersenyum. 

Tiga negara tujuan ekspor terbesar berikutnya adalah Malaysia, India, dan Italia. Dari sisi jenis, kopi Robusta masih mendominasi volume ekspor, sementara Arabica unggul dari sisi harga. 

Baca juga: PLN Jatim Perluas Pemanfaatan SPKLU Untuk Mahasiswa UMM

“Robusta banyak karena memang tanamannya lebih luas di Indonesia, tapi Arabica nilainya lebih tinggi per kilo,” tambah Dedi.

Melalui Arcofest 2025, BI Malang ingin mendorong agar rantai nilai kopi dari kebun hingga cangkir benar-benar terhubung. 

“Kopi bukan hanya gaya hidup. Ia ekonomi rakyat, budaya lokal, sekaligus peluang ekspor. Semua itu bisa tumbuh dari Malang,” tutup Dedi.

 

Editor : Arif

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru