JATIMPEDIA, Bojonegoro - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti masih banyaknya pemerintah daerah (pemda) yang menutup tahun anggaran dengan sisa dana besar yang tidak terserap. Menurutnya, kondisi itu membuat uang negara hanya mengendap di kas daerah tanpa memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025) kemarin. Purbaya bahkan secara khusus menyinggung Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang disebut memiliki sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) mencapai triliunan rupiah di akhir tahun.
Baca juga: Miris, 4.251 Orang di Kabupaten Bojonegoro Terinfeksi HIV/AIDS
“Kalau Bojonegoro lebih dari Rp3 triliun tidak terpakai di akhir tahun, mau diapain?” ujar Purbaya di hadapan peserta rapat.
Ia menegaskan, uang yang mengendap di kas daerah seharusnya segera digunakan untuk kegiatan produktif agar mendorong perputaran ekonomi di masyarakat.
Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa secara umum daerah diarahkan untuk memiliki anggaran surplus guna menjaga cadangan keuangan dan menghindari defisit
Baca juga: Hutan Bojonegoro Masuk Masa Rawan, Perhutani Siaga
“Umumnya mereka memang diarahkan untuk surplus agar ada cadangan. Tapi kalau defisit, harus diambil dari SILPA atau utang,” terang Tito.
Tito menambahkan, sejumlah daerah bahkan meminjam dana dari Kementerian Keuangan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk pembiayaan proyek infrastruktur.
Baca juga: Jejak Minyak Tua Jadi Andalan, Asesor UNESCO Turun Gunung Nilai Geopark Bojonegoro
Sementara itu, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu Askolani menyebutkan bahwa dana surplus daerah memang dapat disimpan sebagai simpanan daerah dalam batas tertentu. Namun, pemerintah pusat tetap mengingatkan agar anggaran tersebut segera dimanfaatkan di awal tahun anggaran untuk kegiatan produktif.
Purbaya menyebut Bojonegoro menjadi perhatian karena memiliki potensi besar dari sektor migas yang dikelola ExxonMobil. “Daerah dengan potensi sebesar itu seharusnya bisa lebih optimal memanfaatkan anggarannya,” tegasnya.
Editor : Taufiq