JATIMPEDIA, Tulungagung - Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong di Kabupaten Tulungagung mencatat rata-rata rendemen tebu lebih dari 8 persen pada musim giling 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun 2025 yang berada di kisaran 6,5 persen, meskipun kemarau panjang menyebabkan bobot tebu petani menyusut hingga 30 persen.
General Manager PG Modjopanggoong Agus Budi Juwono mengatakan, penurunan bobot tebu akibat kondisi cuaca kering berdampak pada meningkatnya konsentrasi gula di dalam batang tebu. Kondisi ini turut memengaruhi kenaikan harga tebu yang kini mencapai Rp115 ribu per kuintal, dari sekitar Rp80 ribu per kuintal pada tahun sebelumnya.
“Dampak El Nino ini menyebabkan berat tebu turun sampai 30 persen. Kondisi ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Tulungagung saja,” kata Agus di Tulungagung, Sabtu.
Ia menjelaskan, rendemen tebu pada 2025 rata-rata hanya mencapai 6,5 persen karena curah hujan yang relatif tinggi. Sebaliknya, kondisi cuaca kering selama musim giling 2026 mendorong kenaikan rendemen hingga melampaui 8 persen.
Menurut Agus, minimnya ketersediaan air memicu penguapan sehingga kandungan gula dalam batang tebu menjadi lebih terkonsentrasi. Meski demikian, peningkatan rendemen tersebut tidak serta-merta mengimbangi penurunan bobot tebu yang dipanen petani.
Kenaikan harga tebu menjadi salah satu dampak positif yang dapat dirasakan petani di tengah berkurangnya kuantitas hasil panen. Namun, keuntungan yang diperoleh tetap dipengaruhi produktivitas lahan, biaya produksi, serta total bobot tebu yang berhasil dipanen.
Di sisi lain, kemarau panjang juga menghambat jadwal tanam tebu di sejumlah wilayah Tulungagung. Sebagian besar lahan yang masih mengandalkan air hujan membuat petani kesulitan melakukan penanaman meskipun bibit telah tersedia.
“Petani sebetulnya sudah punya bibit, tetapi tidak bisa menanam tepat waktu karena tanahnya kering. Rencananya kami akan bantu pompa irigasi,” ujar Agus.
Sebagai langkah antisipasi, PG Modjopanggoong berencana membantu penyediaan pompa irigasi untuk memenuhi kebutuhan air petani, khususnya di lahan yang terdampak kekeringan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penanaman dan menjaga produktivitas tebu pada musim tanam berikutnya. Dengan demikian, dampak kemarau terhadap hasil panen dapat ditekan dan keberlanjutan pasokan bahan baku bagi pabrik gula tetap terjaga.
Editor : Arif