Mahasiswa UNEJ Kembangkan Kampung Tangguh Bencana di Jember

JATIMPEDIA, Jember - Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menginisiasi Program Kampung Tanggap Bencana (KAMTAB) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, untuk memperkuat kesiapsiagaan warga menghadapi banjir yang berulang setiap tahun.

Program melalui PPK Ormawa BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNEJ tersebut dilengkapi sistem peringatan dini banjir berbasis Internet of Things (IoT). Sistem Early Warning System (EWS) dipasang di titik yang terhubung dengan aliran Sungai Bedadung untuk mendeteksi peningkatan ketinggian air.

Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa BEM FKM UNEJ, Savero Gian Purnomo, mengatakan hasil pemetaan menunjukkan Dusun Krajan dan Dusun Gumuk Bago menjadi wilayah yang paling terdampak banjir di Desa Nogosari.

“Di Desa Nogosari ini ada lima dusun, dan yang paling terdampak banjir ada dua dusun, yaitu Dusun Krajan dan Dusun Gumuk Bago,” kata Savero di Jember, Kamis (20/8/2026).

EWS menggunakan sensor ultrasonik untuk membaca ketinggian permukaan air. Ketika mencapai ambang tertentu, sistem akan memberikan alarm sebagai peringatan bagi warga dan pihak terkait untuk melakukan antisipasi atau evakuasi.

Saat ini, satu perangkat dipasang sebagai proyek percontohan. Bersama BPBD Jember, pemerintah desa, dan Desa Tangguh Bencana (Destana), mahasiswa masih menyesuaikan ambang alarm yang direncanakan berada di sekitar empat meter.

Selain EWS, KAMTAB menghadirkan Rumah Lindung Adaptif atau Si-LARUNG. Rumah emergency milik desa dikembangkan menjadi tempat pengungsian yang dilengkapi konsep ketahanan pangan dan fasilitas yang lebih mendukung kebutuhan warga saat bencana.

Dua titik percontohan disiapkan di wilayah terdampak dengan kapasitas masing-masing sekitar 100 orang. Penentuan lokasi dilakukan setelah mahasiswa memetakan rumah emergency yang tersedia di seluruh Desa Nogosari.

Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan EWS harus ditempatkan secara strategis dan didukung sistem pemantauan serta pemeliharaan yang memadai.

“EWS harus terintegrasi dengan mekanisme peringatan dini, penyebarluasan informasi, dan evakuasi masyarakat di wilayah Desa Nogosari,” ujarnya.

Program KAMTAB juga mencakup sejumlah inovasi lain, seperti SI-CARE, SI-Kencana, aquaponik dan budidaya lele, pengelolaan sampah, konservasi lingkungan, serta SI-INFO. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui Expo Inovasi Program bersamaan dengan peluncuran KAMTAB.

Savero mengatakan program tersebut difokuskan di Nogosari karena merupakan bagian dari PPK Ormawa. Namun, konsep yang dikembangkan diharapkan dapat direplikasi di desa lain dengan menyesuaikan karakteristik dan risiko bencana masing-masing wilayah.

Berita Terbaru