JATIMPEDIA, Jakarta - Porsi emas dalam cadangan devisa Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat cadangan emas Indonesia pada 2026 sekitar 87 ton atau hanya 9,6 persen dari total cadangan devisa.
Ekonom senior Indef Aviliani mengatakan kondisi tersebut tidak lepas dari kebutuhan Indonesia menjaga likuiditas valuta asing. Cadangan devisa masih diperlukan untuk menghadapi tekanan pasar, terutama karena perekonomian Indonesia masih bergantung pada aliran modal asing.
“Indonesia masih membutuhkan likuiditas untuk menjaga stabilitas, sehingga tidak mungkin sebagian besar cadangan devisa dialihkan untuk membeli emas,” ujar Aviliani.
Ia menambahkan, cadangan devisa Indonesia saat ini hanya cukup untuk sekitar 5,5 bulan impor. Karena itu, emas tetap berfungsi sebagai instrumen diversifikasi, tetapi peningkatan porsinya harus disesuaikan dengan kemampuan cadangan devisa.
Sebagai perbandingan, porsi emas dalam cadangan devisa Amerika Serikat mencapai 84,8 persen, Jerman 84,6 persen, Italia 82 persen, dan Prancis 82,5 persen. Sementara Rusia mencapai 48,1 persen, India 19,8 persen, Jepang 10,1 persen, dan China 10 persen.
Menurut Aviliani, tidak ada rasio ideal yang berlaku bagi semua negara karena kebijakan cadangan emas bergantung pada kondisi ekonomi dan strategi masing-masing bank sentral.
Di sisi lain, pemerintah mendorong penguatan ekosistem emas nasional mulai dari produksi, pemurnian, perdagangan hingga bullion banking. Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Ellen Setiadi mengatakan emas tidak hanya dapat menjadi aset investasi, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai instrumen pembiayaan.
Pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas cadangan emas Bank Indonesia. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi tambahan bantalan ketika terjadi guncangan ekonomi global.
Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya emas yang besar, dengan cadangan diperkirakan mencapai sekitar 3.600 ton dan produksi rata-rata sekitar 100 ton per tahun.
Penguatan ekosistem emas diharapkan membuat komoditas tersebut tidak hanya berperan sebagai instrumen investasi masyarakat, tetapi juga menjadi aset strategis untuk memperkuat diversifikasi dan ketahanan sistem keuangan Indonesia.
Editor : Rizky