JATIMPEDIA, Yogyakarta – Cargill menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas, penerapan praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta inovasi produk sebagai prioritas utama untuk memperkuat sektor kakao Indonesia.
Hal tersebut disampaikan dalam Indonesia International Cocoa Conference (IICC) ke-9, yang berlangsung pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
Konferensi tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai kakao Indonesia untuk membahas berbagai peluang dan tantangan industri. Melalui sesi sambutan, diskusi panel, dan pameran, Cargill menekankan bahwa kolaborasi berkelanjutan antara petani, pemerintah, dan pelaku industri menjadi kunci dalam mendukung pengembangan sektor kakao secara jangka panjang.
Cargill menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di pasar kakao dan cokelat Asia. Berdasarkan studi terbaru APAC IngredienTracker, konsumen di kawasan Asia memiliki tingkat familiaritas yang tinggi terhadap cokelat dan bahan baku kakao yang digunakan dalam berbagai kategori produk, seperti kembang gula, hidangan penutup, roti dan biskuit, serta produk olahan susu.
Di Indonesia, sebanyak 76% konsumen lebih memilih membeli produk pangan yang ditanam secara lokal, sementara 91% konsumen memilih makanan dan minuman yang diproduksi secara bertanggung jawab dari aspek sosial maupun lingkungan.
Tren tersebut menunjukkan pentingnya keterkaitan antara produksi kakao lokal, pengolahan, praktik pengadaan biji kakao yang bertanggung jawab, serta inovasi produk yang mampu menjawab kebutuhan pasar domestik maupun regional.
Dalam sambutannya, Kashan Rashid, Vice President & Managing Director Cargill Food Southeast Asia, Australia and New Zealand, mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejarah yang kuat dalam industri kakao sekaligus peluang yang semakin besar di masa depan.
"Indonesia merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis kakao Cargill di Asia Pasifik. Kami terus mendukung perkembangan industri kakao melalui kemitraan dengan petani, investasi dalam praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, pengolahan kakao, serta inovasi produk yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan," ujarnya.
Sebagai salah satu negara produsen kakao utama yang berada dekat dengan pasar konsumen Asia yang terus berkembang, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menghubungkan pasokan kakao lokal dengan praktik pengadaan yang berkelanjutan, pengolahan, dan inovasi yang dibutuhkan pasar regional maupun global.
Untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan, sektor kakao Indonesia perlu berfokus pada peningkatan produktivitas di tingkat kebun, perluasan penerapan sistem keterlacakan (traceability), peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan inovasi, serta menjaga akses ke pasar ekspor utama.
Petani kakao memegang peranan penting dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan berkelanjutan. Melalui program Cargill Cocoa Promise, perusahaan bekerja sama dengan petani, pelanggan, dan mitra lokal untuk meningkatkan kapasitas petani sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.
Sepanjang 2026, lebih dari 7.800 petani peserta program sertifikasi Rainforest Alliance menerima pembayaran premi sekitar Rp38,8 miliar.
Selama lima tahun terakhir, Cargill juga telah membentuk delapan pusat pembibitan masyarakat;
menyediakan 96.000 bibit kakao;
mendistribusikan 44.000 pohon penaung; dan mendukung 52 kelompok Village Savings and Loan Association (VSLA).
Di seluruh wilayah rantai pasok yang menjadi bagian dari program Cargill Cocoa Promise, perusahaan juga menerapkan sistem keterlacakan biji kakao hingga tingkat petani (first-mile traceability), pemetaan lahan, penilaian risiko deforestasi, serta pelatihan mengenai praktik pertanian yang baik.
Menutup paparannya, Kashan Rashid menegaskan bahwa masa depan industri kakao Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
"Masa depan industri kakao Indonesia akan ditentukan oleh kolaborasi di sepanjang rantai nilai untuk mendukung petani, memperkuat praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta menghubungkan kakao Indonesia dengan pasar regional dan global," tutupnya
Editor : Rizky