Lapangan Tua, Hasil Luar Biasa: LLA-6 Buktikan Potensi ONWJ

JATIMPEDIA, Jakarta - Kabar baik datang dari sektor hulu migas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan capaian positif dari PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Sumur pengembangan LLA-6 yang mulai dibor pada 24 Maret 2026 menunjukkan performa menjanjikan sebagai sumber tambahan produksi migas nasional. Dalam uji produksi yang berlangsung pada 25 April hingga 2 Mei 2026, sumur ini mencatat initial production sebesar 1.321 barel minyak per hari (BOPD) dan 2 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Menariknya, aliran fluida dari sumur ini terjadi secara natural flow dengan choke 40/64, tanpa kandungan air (BSW 0%). Kondisi ini mengindikasikan kualitas reservoir yang sangat baik. Produksi berasal dari lapisan LL-30, yang masih memiliki tekanan reservoir optimal meskipun berada di lapangan yang telah lama beroperasi.

Sumur LLA-6 berlokasi di Platform LLA, wilayah Offshore North West Java (ONWJ). Keberhasilan ini memperkuat pandangan bahwa lapangan mature tetap memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan teknis yang tepat.

Dari sisi teknis, pengeboran dilakukan secara directional menggunakan Rig PVD-II hingga mencapai kedalaman 5.407 ftMD atau 3.561 ftTVD. Seluruh proses, mulai dari pengeboran hingga uji produksi, diselesaikan dalam waktu 33 hari—menunjukkan efisiensi operasional yang tinggi.

Efisiensi juga tercermin dari sisi biaya. Hingga tahap saat ini, realisasi biaya baru mencapai 61,5�ri total AFE (Authorization for Expenditure) yang disetujui, memberikan prospek keekonomian yang positif bagi proyek ini.

Keberhasilan sumur LLA-6 menjadi momentum penting bagi PHE ONWJ. Saat ini, perusahaan tengah melanjutkan pengeboran ke sumur berikutnya, LLA-5, dengan harapan dapat menyamai bahkan melampaui capaian sebelumnya.

Di tengah tantangan produksi migas nasional, hasil ini menegaskan bahwa strategi intensifikasi di lapangan eksisting masih menjadi kunci peningkatan lifting. Kolaborasi antara SKK Migas dan operator pun semakin memperkuat optimisme bahwa target produksi tahun 2026 semakin realistis untuk dicapai.

Berita Terbaru