JATIMPEDIA, Jakarta – Pelaku industri otomotif nasional berharap pemerintah kembali menggulirkan insentif pajak pada tahun depan. Pasalnya, kondisi pasar kendaraan bermotor dinilai belum sepenuhnya pulih, sehingga peran pemerintah masih sangat dibutuhkan untuk mendorong permintaan dan menjaga keberlangsungan industri.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan mobil secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer sepanjang Januari hingga Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit. Angka tersebut turun 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan penjualan 711.064 unit.
Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Jap Ernando Demily, menilai insentif pajak terbukti mampu menjadi katalis penting dalam memulihkan pasar otomotif. Ia mencontohkan kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2021 yang berhasil mendongkrak penjualan mobil hingga 66,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Ernando, kondisi pasar saat ini memiliki kemiripan dengan periode tersebut, di mana permintaan belum sepenuhnya pulih dan keberlangsungan produksi dalam negeri perlu terus dijaga. Ia menegaskan bahwa intervensi yang tepat dapat memperkuat ekosistem industri otomotif secara menyeluruh.
“Berkaca pada kondisi saat ini, market masih belum mengalami pertumbuhan positif sepanjang tahun. Rasanya intervensi stakeholder masih sangat dibutuhkan untuk mendorong produksi dalam negeri, dengan tujuan membangun industri otomotif secara komprehensif dari hulu ke hilir,” ujar Ernando dalam keterangannya, Senin (22/12).
Ia juga menekankan bahwa kebijakan insentif sebaiknya tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan jangka pendek, tetapi juga mampu memperkuat fondasi industri nasional secara berkelanjutan.
“Kebijakan yang diluncurkan idealnya tidak hanya berdampak positif pada market, tetapi juga industri otomotif secara keseluruhan, sehingga pertumbuhan permintaan masyarakat bisa sejalan dengan pertumbuhan industri nasional,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy. Menurutnya, insentif dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembelian, khususnya saat kondisi pasar sedang melemah. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian penjualan dalam jumlah besar tetap dipengaruhi banyak faktor lain.
“Honda melihat insentif sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong permintaan dan mempermudah keputusan pembelian kendaraan. Namun, pencapaian volume hingga 1 juta unit tetap perlu dikaji lebih lanjut karena dipengaruhi kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat,” jelas Billy.
Billy menambahkan, pelaku industri pada dasarnya menaruh harapan besar pada arah kebijakan pemerintah ke depan. Ia meyakini pemerintah memiliki pertimbangan komprehensif dalam merumuskan insentif agar selaras dengan tujuan jangka panjang pembangunan industri dan ekonomi nasional.
“Apa pun bentuk insentifnya, kami yakin pemerintah memiliki kebijakan yang mendukung industri dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, serta adil untuk seluruh teknologi kendaraan,” ujarnya.
Tidak hanya pabrikan Jepang, merek asal China yang telah melakukan perakitan di dalam negeri juga ikut merasakan dampak kebijakan insentif. Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, menilai insentif yang langsung menyasar konsumen akan memberikan efek cepat terhadap penjualan.
“Kalau insentif yang dampaknya langsung ke konsumen, pasti akan berpengaruh ke penjualan secara langsung. Secara umum, Jetour mendukung langkah pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan penguatan industri,” kata Ranggy.
Editor : Taufiq