Freeport Targetkan Produksi Grasberg Dimulai 2026 dan Operasional Penuh pada 2027

JATIMPEDIA, Gresik - PT Freeport Indonesia memasuki fase transisi penting menuju pemulihan penuh operasi tambang Grasberg di Timika. Setelah insiden longsoran material basah pada (08/09) lalu menghentikan produksi secara total, perusahaan kini menyiapkan dimulainya kembali kegiatan penambangan pada 2026. Fase ini menjadi langkah krusial menuju target operasional 100 persen yang ditetapkan tercapai pada 2027.

Tiga area tambang bawah tanah di Tembagapura terdampak langsung oleh insiden tersebut, membuat seluruh proses produksi berhenti total untuk menjamin keselamatan dan penanganan kondisi geoteknik. Namun upaya perbaikan dan stabilisasi berjalan lebih cepat dari perkiraan. Penambangan bijih kini sudah kembali dilakukan secara bertahap.

Saat ini Freeport mampu menambang sekitar 65 hingga 70 ribu ton bijih per hari, atau sekitar 30 persen dari kapasitas normal yang mencapai 200 ribu ton. Meski belum pulih sepenuhnya, capaian tersebut menandai kembalinya aktivitas produksi setelah disrupsi besar yang sempat menghambat pasokan konsentrat tembaga nasional.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa konsentrat yang dihasilkan saat ini diprioritaskan untuk dikirim ke PT Smelting sesuai perjanjian yang berlaku. Karena pasokan dari hulu belum stabil, pengiriman ke Smelter Manyar belum dapat dilakukan.

“Kita mengutamakan PT Smelting dulu. Konsentrat kita kirim ke sana,” ujar Tony saat meninjau Smelter Manyar di Gresik, Senin (9/12).

Di sisi hilir, Smelter Manyar yang berada di kawasan JIIPE Gresik saat ini memasuki masa maintenance terkoordinasi. Seluruh perangkat strategis dijaga dalam kondisi siap operasi melalui perawatan rutin, pengecekan sistem, serta pengaturan rotasi kerja. Tony menegaskan tidak ada pemutusan hubungan kerja bagi karyawan tetap.

“Karyawan tidak ada yang di-PHK. Tetap bekerja tapi jadwalnya kita sesuaikan,” jelasnya.

Freeport menargetkan kegiatan penambangan di Grasberg Block Cave (GBC) kembali beroperasi pada Maret 2026. Satu bulan kemudian, aliran konsentrat ditargetkan mulai mengalir ke Gresik sehingga Smelter Manyar dapat memasuki fase operasi bertahap mulai April 2026.

Sebelumnya, ramp up smelter Manyar telah mencapai 80 persen pada Oktober 2025 dan diproyeksikan mencapai operasi penuh pada Desember 2025. Namun seluruh rencana tersebut bergeser akibat terhentinya pasokan konsentrat setelah insiden longsor.

Meski demikian, Freeport memastikan masa jeda ini tidak terbuang percuma. Smelter Manyar terus menjalani heating up, uji teknis, sinkronisasi peralatan, serta penyempurnaan sistem, sehingga ketika aliran konsentrat kembali tersedia, smelter dapat langsung beroperasi stabil, aman, dan optimal. Tahapan ini disebut sebagai bagian dari strategi ramp up yang lebih matang dan terukur.

Dengan pemulihan bertahap dan target operasi penuh pada 2027, Freeport optimistis dapat mengembalikan kontribusi produksinya bagi industri tembaga nasional dan global.

Berita Terbaru