JATIMPEDIA, London – Produsen mobil global tengah berpacu mencari pasokan rare earth atau logam tanah jarang menjelang diberlakukannya pembatasan ekspor baru oleh China. Kekhawatiran meningkat di kalangan eksekutif otomotif bahwa kebijakan ini dapat menyebabkan kelangkaan komponen vital dan penutupan pabrik di berbagai negara.
Dikutip dari Reuters, logam tanah jarang menjadi komponen penting dalam motor listrik dan berbagai bagian mobil seperti kaca spion otomatis, pompa oli, sensor rem, dan sistem suara. Di kendaraan listrik (EV), perannya bahkan lebih besar karena digunakan dalam pembuatan motor penggerak utama.
Konsultan AlixPartners memperkirakan China menguasai hingga 70% tambang rare earth dunia, 85% kapasitas pemurnian, dan sekitar 90% produksi paduan logam serta magnet berbasis rare earth. Beijing kini memperluas daftar kontrol ekspor yang mencakup elemen seperti ytterbium, holmium, dan europium — material penting dalam industri otomotif.
“Situasinya sangat genting,” ujar Nadine Rajner, CEO NMD, perusahaan pemasok serbuk logam asal Jerman. “Para pelanggan kini mencari pasokan dari mana pun, asal bukan dari China.”
Sebagai upaya menandingi dominasi China, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Australia Anthony menandatangani kesepakatan mineral strategis yang mencakup investasi Amerika di proyek tambang rare earth di Australia. Namun, Rajner menambahkan bahwa meskipun beberapa negara seperti Swedia memiliki cadangan besar, mereka belum memiliki infrastruktur tambang dan fasilitas pemurnian. Untuk heavy rare earth, China masih menguasai 99,8% kapasitas pemurnian global.
“Kami hampir kehabisan stok,” kata Rajner. “Permintaan sangat tinggi dan persediaan terbatas.”
Upaya daur ulang rare earth dari mobil bekas mulai dilakukan, seperti yang dilakukan perusahaan Prancis Neutral yang didukung Renault. Mereka saat ini mendaur ulang logam tanah jarang dari 400.000 kendaraan per tahun dan bekerja sama dengan 15 merek di Eropa. Namun, CEO Neutral Jean-Philippe Bahuaud mengakui bahwa tantangan utamanya adalah meningkatkan skala produksi.
Sementara itu, para pemasok dan produsen mobil seperti Toyota dan Bosch mulai menimbun stok menjelang penerapan kontrol ekspor China pada 8 November mendatang. “Mereka bisa menghentikan industri otomotif global hanya dalam dua bulan,” ujar Ryan Grimm, Wakil Presiden Pengembangan Pemasok Toyota Amerika Utara.
Namun, beberapa produsen mencoba keluar dari ketergantungan terhadap rare earth. General Motors, ZF, dan BorgWarner tengah mengembangkan motor listrik dengan kandungan rare earth rendah atau tanpa sama sekali, sementara BMW dan Renault telah berhasil memproduksi motor bebas logam tanah jarang. Perusahaan teknologi Monumo di Inggris juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengurangi kandungan rare earth dalam motor hingga rata-rata 24%.
Meski begitu, sebagian besar teknologi alternatif tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum siap diproduksi massal. Upaya membuka tambang dan fasilitas pemrosesan baru di luar China juga terhambat oleh strategi Beijing yang menurunkan harga pasar untuk menjaga dominasi.
Analis rantai pasok Andy Leyland menilai Amerika Serikat lebih tanggap dibanding Eropa terhadap ancaman ini. “China selalu bisa menjual dengan harga lebih murah,” ujarnya. “Ini membuat investasi dalam teknologi bebas rare earth menjadi berisiko tinggi.”
Para ahli memperkirakan bahwa pembatasan ekspor kali ini bukanlah yang terakhir. “Ini baru permulaan,” kata Jan Giese, manajer senior di perusahaan perdagangan logam Tradium. “China akan terus menggunakan kendalinya atas pasokan rare earth sebagai kekuatan strategis.”
Kategori: Bisnis
Tag: Rare Earth, Industri Otomotif, China, Ekspor, Toyota, GM, BMW, Renault, , Energi Bersih, EV, Trump, Australia
Ringkasan (160 karakter):
Editor : Taufiq