Pemerintah kaji tambahan likuiditas bagi bank BUMN setelah Rp200 triliun sebelumnya dinilai berhasil

Pemerintah Pertimbangkan Tambahan Likuiditas untuk Bank BUMN, Dorong Pertumbuhan Ekonomi ke 6%

JATIMPEDIA, Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk menambah suntikan likuiditas ke bank-bank milik negara guna memperkuat penyaluran kredit dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai pertemuan dengan para ekonom, bankir, dan eksekutif perusahaan sekuritas pada Senin (7/10).

Purbaya tidak menyebutkan jumlah tambahan dana yang akan digelontorkan, namun menegaskan bahwa pemerintah masih meninjau dampak dari injeksi likuiditas sebelumnya senilai Rp200 triliun (sekitar USD 12,08 miliar) yang diberikan kepada bank-bank BUMN untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif. “Kami akan melihat perkembangannya ke depan. Sejauh ini hasilnya sangat positif, dan kami akan menambahnya bila diperlukan,” ujarnya kepada wartawan.

Ia menambahkan, saat ini Kementerian Keuangan masih memiliki simpanan sebesar Rp250 triliun di Bank Indonesia. Pada bulan lalu, Purbaya memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah tersebut ke lima bank BUMN, yakni Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Menurutnya, dua bank besar—BRI dan BNI—telah mengajukan permintaan tambahan likuiditas untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil. “Kami berharap dampak dari kebijakan ini bisa terlihat pada kuartal IV tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai di atas 5,5%, dan meningkat menjadi 6% tahun depan,” jelas Purbaya.

Ekonomi Indonesia, sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, masih menghadapi tantangan dalam mempercepat pemulihan pasca pandemi COVID-19. Meskipun pertumbuhan stabil di kisaran 5%, percepatan di atas level tersebut dinilai penting untuk mengimbangi laju pertambahan penduduk dan memperkuat daya saing nasional.

SI



Berita Terbaru

Telkom Rampungkan Spin-Off InfraCo Tahap 2

Pasca penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 1 yang berlaku sejak Januari 2026, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) yang operating company PT Telkom …