EJIF 2026 Tawarkan Investasi Proyek Senilai Rp73,77 Triliun

Reporter : Eka Sapto
Wagub Jatim Emil Dardak saat membuka EJIF 2026, Surabaya

JATIMPEDIA, Surabaya - Jawa Timur terus memperkuat strategi investasi dengan membangun ekosistem yang mampu menghubungkan potensi proyek, kebutuhan investor, pembiayaan, hingga dukungan infrastruktur. Langkah tersebut salah satunya diwujudkan melalui East Java Investment Forum (EJIF) 2026 yang mempertemukan investor dengan pemerintah daerah dan pemilik proyek investasi.

 

Baca juga: Khusus Besok Naik TransJatim Gratis, Sambut HUT Pemprov Jatim 12 Oktober

 

Direktur Eksekutif Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur Ibrahim mengatakan, investasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. Potensi ekonomi yang besar perlu diterjemahkan menjadi proyek yang siap ditawarkan sekaligus memiliki peluang untuk direalisasikan.

 

 

"Kenapa investasi itu penting dan kenapa harus di Jawa Timur, karena Jawa Timur memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Kalau kita lihat trennya masih membaik, bahkan pertumbuhan Jawa Timur mencapai 5,84 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa," kata Ibrahim saat pembukaan EJIF 2026, Surabaya, Jumat (2/10/2026).

 

 

Menurutnya, investasi saat ini berkontribusi sekitar 27,15 persen terhadap PDRB Jawa Timur. Porsi tersebut perlu dipertahankan dan bahkan ditingkatkan hingga di atas 30 persen untuk memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi daerah.

 

 

Ibrahim menilai kekuatan investasi Jatim didukung basis industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi yang menjadi sektor dominan. Basis tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan hilirisasi sekaligus memperkuat rantai pasok industri di Jawa Timur.

 

 

Selain struktur ekonomi, konektivitas juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi. Infrastruktur jalan tol, pelabuhan, bandara, dan jaringan transportasi yang terus berkembang memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pintu masuk sekaligus penghubung kegiatan ekonomi menuju kawasan Indonesia bagian timur.

 

 

Potensi tersebut kemudian dikemas melalui EJIF 2026. Forum ini menawarkan 28 Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan total potensi investasi mencapai Rp73,77 triliun. Selain IPRO, investor juga ditawarkan peluang kerja sama aset pemerintah daerah, kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta berbagai proyek potensial lainnya.

 

 

Beragam sektor ditawarkan, mulai dari industri pengolahan tembaga, hilirisasi timah, peralatan dan mesin pertanian, kawasan industri, agroindustri, peternakan, perikanan, pengembangan perkotaan, infrastruktur olahraga, ekonomi kreatif hingga pariwisata.

 

 

Ibrahim mengatakan, kesiapan proyek perlu dibarengi dengan tata ruang, infrastruktur pendukung, promosi investasi, serta iklim usaha yang kondusif. Dengan demikian, proyek yang ditawarkan melalui EJIF memiliki fondasi yang lebih kuat untuk ditindaklanjuti investor.

 

 

"Ketika ada IPRO yang kita lihat bersama-sama, kita ingin memastikan radar investor asing masih melihat sinyal-sinyal optimisme dari Jawa Timur. Saya yakin ini akan tercermin dari proyek-proyek yang kita tawarkan," ujarnya.

 

 

Dari sisi pembiayaan, BI juga mendorong perubahan pendekatan agar investasi tidak hanya bergantung pada APBN dan APBD. Skema creative financing, pembiayaan swasta, hingga regional debt financing dapat menjadi alternatif untuk mendukung proyek yang telah dinilai layak.

 

 

"Kita perlu mengubah pola menjadi shifting the financing towards project financing based on project feasibility and funding need. Identifikasi proyeknya terlebih dahulu, kemudian kita cari sumber dananya," kata Ibrahim.

 

Baca juga: Wagub Emil Optimistis Kerja Kolektif Perkuat UMKM dan Gerakkan Ekonomi Jatim

 

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, strategi investasi Jatim ke depan harus diarahkan pada pembangunan ekosistem ekonomi yang mampu menjaga daya saing industri. Pemerintah tidak cukup hanya menawarkan potensi sumber daya, tetapi harus memastikan infrastruktur, konektivitas, kawasan industri, tenaga kerja, dan rantai pasok tersedia.

 

 

"Kalau kita ingin mengakomodir dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat Jawa Timur, tidak ada yang lain, solusinya kita harus juga membangun sektor manufaktur," ujar Emil.

 

 

Menurut Emil, manufaktur menjadi salah satu fokus karena sektor tersebut dapat menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. Karena itu, kebijakan investasi juga diarahkan untuk memperkuat hilirisasi, terutama yang memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian dan perkebunan.

 

 

Emil mencontohkan tebu yang tidak hanya dikembangkan menjadi gula, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke industri bioethanol. Pengembangan industri lanjutan tersebut dinilai dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar sekaligus memperkuat pasar bagi produk sektor primer.

 

 

Strategi lainnya adalah memperkuat Jawa Timur sebagai manufacturing import gateway. Menurut Emil, bahan baku dan mesin dari luar daerah maupun luar negeri perlu dapat masuk dengan lancar untuk kemudian diolah di Jawa Timur sebelum dipasarkan ke berbagai daerah atau diekspor.

 

 

"Bukan diimpor barang jadi, tapi raw material, kemudian ini diolah di pabrik-pabrik kita dan dijual ke seluruh penjuru Indonesia. Jadi kita bisa dibilang menjadi manufacturing import gateway," ujarnya.

 

Baca juga: Gubernur Khofifah Resmikan Pembukaam Kantor Bank Jatim Cabang Balikpapan

 

Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah daerah terus memperkuat konektivitas melalui jalan, pelabuhan, bandara, serta kawasan industri. Kelancaran logistik dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem investasi karena berpengaruh langsung terhadap efisiensi biaya dan waktu distribusi.

 

 

Pemprov Jatim juga menggunakan pendekatan berbasis wilayah dalam mengembangkan peluang investasi. Gerbangkertosusila diarahkan untuk industri berat dan padat modal, kawasan Bromo-Tengger-Semeru memiliki peluang agroindustri, pariwisata dan ekonomi kreatif, sedangkan kawasan Lingkar Wilis memiliki potensi agroforestri dan industri yang sesuai dengan karakter wilayah.

 

 

Pendekatan berbasis wilayah tersebut diharapkan membuat investasi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan metropolitan. Penguatan konektivitas membuka peluang bagi berbagai kabupaten dan kota untuk mengembangkan investasi sesuai potensi dan keunggulan masing-masing.

 

 

Di sisi lain, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, EJIF 2026 mulai menunjukkan hasil konkret. Melalui rangkaian business meeting, project exhibition, one-on-one meeting, dan kunjungan proyek, telah terdapat 11 proyek yang menandatangani MoU dengan nilai Rp2,4 triliun. "Ini bukan sekadar komitmen, tetapi merupakan kontrak yang akan ditindaklanjuti dengan realisasi investasi yang sangat konkret," kata Adhy.

 

 

Selain investasi, EJIF juga menghasilkan transaksi business matching UMKM sekitar Rp7,1 miliar dari target Rp20 miliar. Seluruh kesepakatan tersebut selanjutnya akan dikawal agar tidak berhenti pada forum, tetapi berlanjut menuju realisasi.

 

 

Melalui EJIF, strategi investasi Jawa Timur diarahkan untuk membangun mata rantai yang lebih lengkap, mulai dari identifikasi proyek, kesiapan kawasan dan infrastruktur, pertemuan dengan investor, dukungan pembiayaan, hingga pengawalan realisasi investasi. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Jatim mempertahankan posisinya sebagai salah satu gateway ekonomi nasional.

Editor : Arif

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru