JATIMPEDIA, Surabaya - PT Semen Gresik, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG), memperkuat komitmen terhadap penerapan industri hijau melalui pengembangan produk dan solusi konstruksi rendah karbon.
Baca juga: Penggunaan Sekam Padi di SIG Pabrik Tuban Capai 400 Ton Per Hari
Dukungan tersebut ditunjukkan dalam gelaran Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 yang diselenggarakan Green Building Council Indonesia (GBCI) di Surabaya.
Direktur Utama Semen Gresik Gatot Mardiana mengatakan transformasi menuju industri hijau tidak cukup hanya dilakukan melalui proses produksi. Menurutnya, prinsip keberlanjutan juga perlu diterapkan dalam pengembangan produk dan solusi konstruksi.
"Bagi Semen Gresik, green industry merupakan bagian dari transformasi bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang. Di Semen Gresik Pabrik Rembang, pendekatan tersebut kami lakukan mulai dari proses produksi hingga pengembangan produk," kata Gatot, Selasa, (29/9/2026).
Dia menjelaskan penerapan prinsip industri hijau di Pabrik Rembang dilakukan dengan mengembangkan proses produksi berbasis ekonomi sirkular. Perusahaan memanfaatkan sejumlah material alternatif, seperti Refuse-Derived Fuel (RDF), limbah industri, dan biomassa untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Selain proses produksi, Semen Gresik juga mengembangkan produk yang memiliki intensitas emisi lebih rendah.
"Di Semen Gresik Pabrik Rembang, perusahaan memiliki semen hijau dengan intensitas emisi hingga 28 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional pada umumnya," ujarnya.
Adapun IGBF 2026 mengusung tema "Mengintegrasikan Kebijakan Preservasi, Tolok Ukur Hijau, dan Penggunaan Material Berkelanjutan untuk Mewujudkan Infrastruktur Rendah Karbon".
Baca juga: SIG Raih Katadata ESG Insight Award 2026
Chairperson GBCI Ignesjz Kemalawarta mengatakan penerapan konsep bangunan hijau membutuhkan pendekatan terintegrasi, mulai dari kebijakan, desain, performa bangunan, hingga pemilihan material.
"Bangunan dan properti turut berkontribusi dalam pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060. Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi dan inovasi di seluruh rantai industri agar transformasi menuju pembangunan rendah karbon berjalan konsisten," katanya.
Dia menilai industri bahan bangunan memiliki peran penting dalam memperluas penerapan konstruksi rendah karbon.
Sementara itu, content creator Andi Sugiarto Budiman atau Andy Sugarrr menjelaskan konsep bangunan hijau berkaitan dengan efisiensi energi melalui desain dan material.
Menurutnya, penggunaan desain atap yang lebih tinggi dapat membantu memperlancar sirkulasi udara sehingga kebutuhan pendingin ruangan dapat ditekan. Penggunaan material transparan pada bagian tertentu juga dapat memaksimalkan pencahayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu.
IGBF 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan SIG bersama GBCI yang digelar di lima kota, yakni Bandung, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, dan Surabaya.
Forum tersebut mempertemukan pelaku industri, pemerintah, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan sektor konstruksi untuk membahas kebijakan bangunan hijau, tolok ukur keberlanjutan, serta penggunaan material rendah emisi.
Editor : Taufiq