Load Factor Kursi AirAsia Kuartal III-2026 Capai 80 Persen

Reporter : Ferdian
Pesawat AirAsia di Bandara Soekarno-Hatta

JATIMPEDIA, Jakarta  - Co-founder AirAsia Tony Fernandes mengatakan permintaan penerbangan tetap kuat di tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik serta kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur).

Dalam taklimat media secara daring yang diikuti di Jakarta pada Jumat, Fernandes menyampaikan bahwa load factor atau tingkat keterisian kursi AirAsia Group berada di kisaran 80 persen pada kuartal III. Selain itu, pemesanan tiket untuk kuartal IV juga menunjukkan tren yang sangat baik.

Baca juga: Indonesia AirAsia dan Penang Global Tourism Bidik Warga Jatim Melancong ke Malaysia

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perbedaan situasi industri penerbangan saat ini dibandingkan dengan pandemi COVID-19, ketika maskapai dan penumpang menghadapi pembatasan perjalanan sehingga penerbangan tidak dapat beroperasi secara normal.

“COVID-19 memberikan tekanan yang jauh lebih berat terhadap industri penerbangan dibandingkan kondisi yang dihadapi saat ini,” ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat saat ini masih dapat melakukan perjalanan udara sehingga permintaan penerbangan tetap terjaga, meskipun industri menghadapi berbagai ketidakpastian.

Fernandes mengatakan biaya avtur saat ini berada pada kisaran yang masih dapat dikelola AirAsia. Ia memperkirakan harga bahan bakar pesawat berada di kisaran 160-190 dolar AS dan mengatakan perusahaan dapat kembali menyesuaikan harga tiket apabila biaya bahan bakar meningkat secara signifikan.

Ia menilai kemampuan masyarakat untuk tetap melakukan perjalanan udara menjadi faktor penting dalam menjaga permintaan saat ini, meskipun industri menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk konflik geopolitik.

Baca juga: AirAsia Raih Penghargaan Utama World Travel Awards Asia 2026

Ia menjelaskan kuartal kedua merupakan periode tersulit bagi maskapai yang menguasai sekitar 60 persen pasar domestik Malaysia tersebut. Ia memprediksi kondisi akan membaik seiring langkah AirAsia menyesuaikan tarif untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.

Di sisi lain, Fernandes menegaskan AirAsia memiliki kemampuan pengelolaan kas dan posisi likuiditas yang kuat.

Terkait liabilitas, total kewajiban AirAsia mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp81,4 triliun per 30 Juni 2026, dengan sekitar 13 miliar ringgit atau Rp56,5 triliun di antaranya merupakan kewajiban sewa pesawat.

Baca juga: AirAsia Raih Best Low-Cost Airline in Indonesia 2026 di Indonesia versi Skytrax

Pernyataan Fernandes disampaikan merespons laporan media mengenai langkah Pemerintah Malaysia yang menghubungi Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menyusun skenario antisipasi jika kondisi keuangan AirAsia memburuk, termasuk kemungkinan mengambil alih rute dan penumpang maskapai berbiaya murah (low-cost carrier) tersebut.

Fernandes menegaskan bahwa AirAsia tidak meminta dana talangan dari pemerintah. Ia juga memastikan tidak ada armada yang dihentikan operasinya (grounded) akibat gagal bayar.

Menurut dia, aksi penggalangan dana senilai 1 miliar dolar AS yang dilakukan perusahaan murni merupakan upaya pembiayaan kembali (refinancing) guna menekan biaya bunga dan memperbaiki tenor pembiayaan, bukan untuk menghimpun modal baru.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru