Jadi Tuan Rumah Hari Batik Nasional 2026, Surabaya Hadirkan Pameran hingga Batik Berlayar di Kalimas

Reporter : indri fitria
Gelaran Hari Batik Nasional ke-17  akan berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026

JATIMPEDIA, Surabaya  - Kota Surabaya  akan menjadi tuan rumah Hari Batik Nasional 2026. Batik akan hadir dengan wajah yang berbeda di Surabaya.

Tak hanya dipajang sebagai kain atau dikenakan sebagai busana, batik pada peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 akan dibawa ke ruang-ruang publik, dipadukan dengan teknologi pertunjukan seni, hingga menghiasi perahu yang berlayar di Sungai Kalimas.

Baca juga: Mini Job Fair Disnaker Surabaya Sediakan 450 Lowongan Kerja

Gelaran Hari Batik Nasional ke-17  akan berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Komite Hari Batik Nasional 2026. Mengusung semangat membawa batik semakin dekat dengan generasi muda, HBN 2026 tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengenal dan mengenakan batik, tetapi juga menghadirkan batik sebagai sebuah pengalaman budaya yang dapat dilihat, dipelajari, dinikmati, dan dialami bersama.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama Kartasasmita, mengatakan HBN 2026 dirancang bukan sekadar sebagai ruang pamer, tetapi sebagai ruang pengalaman bagi masyarakat. "Kami ingin menjadikan ruang pengalaman," ujarnya pada press conference Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Rabu (16/9/2026).

Karena itu, suasana pameran akan dibuat lebih interaktif dengan sentuhan teknologi kekinian. Pengunjung nantinya dapat berinteraksi dengan layar untuk memilih busana, yang kemudian akan divisualisasikan dalam motif batik. Bahkan, lantai area pameran akan dibuat seolah menjadi gambar hidup.

Pengalaman tersebut juga diperkuat dengan panggung seni yang menghadirkan tari, musik, perkusi, hingga permainan cahaya. Perpaduan tersebut menjadi cara penyelenggara untuk memperlihatkan bahwa batik dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Dalam HBN 2026, Batik Tulungagung mendapat sorotan khusus. Sejumlah motif khas seperti Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan, dan Kalangbret akan diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan batik Jawa Timur.

Ketua Panitia HBN 2026 sekaligus Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, Ir Wirasno mengatakan, pemilihan Batik Tulungagung berkaitan dengan upaya menjaga warisan budaya tersebut di tengah berkurangnya jumlah perajin. Harapannya, batik Tulungagung semakin dikenal sekaligus memperoleh ruang untuk berkembang.

Jawa Timur sendiri memiliki 38 kabupaten/kota dengan kekayaan budaya dan karakter batik yang beragam. Karena itu, pameran HBN 2026 tidak hanya berfokus pada satu daerah, tetapi menghadirkan perajin dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Salah satu agenda utama adalah pameran batik di Grand Atrium dan Corridor Tunjungan Plaza 3 yang berlangsung sepanjang 30 September hingga 4 Oktober 2026. Pameran tersebut akan menghadirkan perajin batik dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman batik dari berbagai daerah.

Baca juga: AHASS Lebih Dekat, Jawab Kebutuhan Konsumen akan Servis Motor yang Mudah, Praktis dan Terpercaya

Pameran akan menghadirkan pendekatan yang lebih interaktif dengan memadukan teknologi dan kreativitas, antara lain melalui panggung interaktif berbasis teknologi LED dan LED floor yang menghadirkan kekayaan visual batik dalam pengalaman ruang yang dinamis dan imersif.

Beragam program edukatif, kreatif, dan hiburan juga akan mengisi pameran, mulai dari fashion show, Reels Competition, workshop digital UMKM berbasis teknologi AI, pertunjukan musik dan seni, kegiatan kreatif untuk anak-anak, hingga berbagai program yang mempertemukan batik dengan dunia industri dan ekonomi kreatif.

Rangkaian talkshow juga dirancang untuk membuka percakapan mengenai batik dalam konteks masa kini dan masa depan. Sejumlah topik yang diangkat antara lain, "Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan dan Bertahan dalam Tradisi", serta "Threads of Identity: Ketika Batik Menjadi Bahasa Generasi.", dan berbagai topik lainnya yang akan membahas mengenai teknologi, pengembangan pasar, fashion, wastra, serta peluang bisnis berbasis batik.

Kehadiran para perajin sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung betapa beragamnya motif, warna, cerita, dan teknik yang berkembang di balik selembar kain batik.

Jika pameran menjadi ruang untuk melihat dan mengenal batik, maka Batik Berlayar akan membawa batik keluar dari ruang pamer.

Baca juga: Gubernur Khofifah Tegaskan Komitmen Percepat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Jatim

Agenda yang dijadwalkan pada 2 Oktober 2026 ini akan menghadirkan sekitar 10 perahu yang dihias dengan ornamen dan motif batik khas Jawa Timur. Perahu-perahu tersebut akan menyusuri Sungai Kalimas dalam parade budaya dari kawasan Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel).

Sepanjang perjalanan, para tamu akan menikmati suasana Sungai Kalimas yang dihidupkan melalui berbagai pertunjukan seni, musik, perkusi, tari, serta permainan cahaya.

Konsep ini menjadi salah satu agenda unik HBN 2026. Motif batik tidak hanya hadir pada kain dan busana, tetapi diterjemahkan menjadi elemen visual pada perahu yang bergerak menyusuri salah satu ruang publik ikonik Surabaya.

Batik Berlayar juga direncanakan menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian HBN 2026 dan akan melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas serta mitra kegiatan.

Editor : Arif

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru