Sektor Ritel di Jatim Tumbuh 8-9 Persen di Semester I-2026

Reporter : indri fitria
Icon Mall jadi pusat perbelanjaan di Kota Gresik

JATIMPEDIA, Surabaya - Industri ritel modern di Jawa Timur menutup Semester I-2026 dengan kinerja yang tetap solid di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur mencatat penjualan tenant di pusat perbelanjaan masih tumbuh sekitar 8-9% secara tahunan (year on year/yoy), didorong tingginya aktivitas konsumsi masyarakat dan terus masuknya merek-merek internasional ke pasar Indonesia.

Ketua APPBI Jawa Timur, Sutandi Purnomosidi, mengatakan capaian Januari-Juni 2026 menunjukkan daya tahan sektor ritel masih sangat baik. Meski pertumbuhannya belum menyentuh dua digit, angka tersebut dinilai mencerminkan kondisi pasar yang sehat.

Baca juga: BI : Kinerja Penjualan Eceran Surabaya Mei 2026 Diperkirakan Terjaga

"Kinerja ritel selama semester I masih sangat positif. Penjualan tenant bertumbuh sekitar 8-9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Itu menunjukkan konsumsi masyarakat masih terjaga," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Momentum positif tersebut, lanjut Sutandi yang juga Direktur Marketing Pakuwon Group, bahkan masih berlanjut hingga memasuki Juli dan awal Agustus. Indikasinya terlihat dari tingginya kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan.

Di Pakuwon Mall Surabaya, misalnya, jumlah kendaraan yang masuk pada 1 Agustus mencapai lebih dari 19.000 unit dalam sehari. Sementara Tunjungan Plaza mencatat sekitar 13.500 kendaraan pada hari yang sama. Angka tersebut menunjukkan tingkat okupansi parkir yang sangat tinggi, bahkan dengan kapasitas parkir yang hanya sekitar 3.250 kendaraan di TP, sehingga terjadi perputaran kendaraan hingga empat kali putaran dalam sehari.

"Bahkan dibandingkan akhir pekan sebelumnya, kunjungan pada awal Agustus meningkat sekitar 10-20%. Ini menunjukkan aktivitas belanja masyarakat masih cukup kuat," katanya.

Tidak hanya trafik pengunjung, optimisme juga tercermin dari ekspansi para pelaku ritel. Sejumlah tenant besar seperti MAP Group dan Erajaya masih terus membuka gerai baru. Di sisi lain, Indonesia, khususnya Surabaya, juga semakin menarik bagi merek-merek global.

Pakuwon Mall baru saja menghadirkan Urban Revivo, sementara merek fesyen asal Korea Selatan, Musinsa, juga tengah mencari ruang usaha seluas sekitar 1.000 meter persegi.

"Masuknya brand asing menunjukkan mereka masih sangat percaya terhadap prospek pasar Indonesia. Bahkan kami sampai kesulitan menyediakan lokasi karena permintaan ruang cukup besar," ungkap Sutandi.

Menurutnya, investor asing, khususnya dari China dan Korea Selatan, melihat Indonesia sebagai pasar jangka panjang yang menjanjikan karena didukung jumlah penduduk usia produktif yang besar.

Pola Konsumsi Berubah, Bukan Daya Beli Melemah

Di tengah munculnya berbagai kekhawatiran mengenai penurunan daya beli, APPBI menilai yang terjadi justru merupakan pergeseran pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda.

Generasi Z dinilai lebih berani membelanjakan pendapatan untuk pengalaman, gaya hidup, olahraga, hingga kuliner, dibandingkan mengalokasikan dana untuk membeli aset seperti rumah.

Baca juga: Pemkab Madiun Perluas Pemasaran Produk UMKM Melalui Ritel Modern

"Mereka tetap spending, tetapi prioritasnya berubah. Healthy lifestyle, nongkrong di kafe, olahraga, dan pengalaman menjadi pilihan dibandingkan konsumsi konvensional," jelasnya.

Pergeseran juga terjadi pada kelompok masyarakat kelas menengah. Jika sebelumnya banyak berbelanja di restoran premium, kini sebagian mulai beralih ke restoran dengan harga lebih terjangkau atau sekadar menikmati kopi. Sementara kelompok menengah atas dinilai masih mempertahankan pola belanjanya.

"Jadi bukan berarti daya beli hilang, tetapi komposisi pengeluarannya yang berubah."

Memasuki Semester II-2026, APPBI memperkirakan pertumbuhan ritel akan mengalami perlambatan. Namun kondisi tersebut bukan menjadi sinyal pelemahan ekonomi, melainkan bagian dari siklus tahunan industri ritel.

Menurut Sutandi, periode Agustus hingga Oktober memang secara historis merupakan fase normalisasi setelah berbagai momentum belanja besar pada Semester I, seperti Ramadan, Idulfitri, libur sekolah, hingga berbagai program promosi pertengahan tahun.

"Mulai Agustus sampai Oktober biasanya memang melambat. Itu siklus tahunan ritel. Nanti November mulai naik lagi dan Desember kembali kuat karena momentum akhir tahun," katanya.

Ia optimistis pola tersebut akan kembali berulang pada tahun ini sehingga prospek industri ritel hingga akhir 2026 tetap positif.

Baca juga: Banyuwangi Susun Perda Pembatasan Jam Operasional Ritel Modern

Tantangan Utama Datang dari Faktor Global

Meski optimistis terhadap prospek konsumsi domestik, APPBI mengingatkan bahwa risiko terbesar justru berasal dari faktor eksternal, terutama geopolitik global yang berpotensi memicu kenaikan harga energi.

Menurut Sutandi, kemampuan pemerintah menjaga inflasi menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan konsumsi rumah tangga. Apabila lonjakan harga minyak membuat ruang fiskal untuk subsidi energi menyempit, daya beli masyarakat berpotensi tertekan karena kenaikan harga tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan.

"Yang paling penting adalah inflasi tetap terkendali. Kalau inflasi melonjak sementara kenaikan upah tidak mampu mengimbanginya, itu yang akan menjadi tantangan terbesar bagi konsumsi masyarakat," ujarnya.

Di sisi pelaku usaha, pengelola pusat perbelanjaan akan tetap berfokus meningkatkan jumlah kunjungan melalui penyelenggaraan berbagai event dan program promosi. Sementara konversi pengunjung menjadi transaksi akan sangat bergantung pada strategi masing-masing tenant, mulai dari pemberian diskon hingga berbagai program loyalitas.

"Kewajiban kami adalah menghadirkan traffic. Setelah itu tenant yang menentukan bagaimana pengunjung tersebut dikonversi menjadi penjualan melalui promo dan strategi pemasaran mereka masing-masing," pungkasnya. 

Editor : Eka Sapto

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru