JATIMPEDIA, Gresik – Komitmen PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk kembali mengoperasikan smelter di Gresik, Jawa Timur, pada September 2026 masih menuai keraguan. Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai rekam jejak perusahaan menunjukkan smelter belum menjadi prioritas dibandingkan ekspor konsentrat.
Fahmy mengaku belum yakin smelter Freeport akan benar-benar beroperasi sesuai jadwal yang dijanjikan.
Baca juga: Smelter PTFI Mulai Terima Material Konsentrat dari Tambang Papua
"Freeport sudah memiliki smelter di Gresik, tetapi belum juga beroperasi optimal. Sebelumnya ada alasan kebakaran pada Oktober 2024, kemudian berhenti lagi akibat longsor di Grasberg. Kelihatannya memang belum serius," kata Fahmy seperti dikutip di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Freeport beberapa kali meminta kelonggaran untuk tetap mengekspor konsentrat tembaga karena belum memiliki fasilitas pemurnian di dalam negeri. Padahal, kewajiban pembangunan smelter telah diatur dalam Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) sebagai bagian dari kebijakan hilirisasi.
Ia menilai pembangunan smelter di Gresik yang dimulai pada 2021 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 23 September 2024 belum memberikan manfaat maksimal. Pasalnya, fasilitas tersebut mengalami kebakaran sekitar sebulan setelah peresmian sehingga operasionalnya terhenti.
"Meski smelter tidak beroperasi, Freeport tetap mendapat izin ekspor konsentrat. Itu yang membuat saya mempertanyakan keseriusan perusahaan menjalankan hilirisasi," ujarnya.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Fahmy menilai masih ada kemungkinan Freeport kembali mengandalkan ekspor konsentrat apabila menghadapi kendala operasional.
Di sisi lain, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas memastikan smelter di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, akan kembali beroperasi pada September 2026.
Tony menjelaskan penghentian operasional smelter bukan karena perusahaan enggan mengolah konsentrat di dalam negeri, melainkan akibat terganggunya pasokan bahan baku setelah terjadi longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.
Baca juga: Merdeka Copper Gold Perbarui Estimasi Sumber Daya Gua Macan
"Produksi terhenti sekitar Oktober 2025 karena longsor di Grasberg Block Cave menyebabkan pasokan konsentrat terhenti," ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).
Selama pasokan konsentrat terhenti, kata Tony, perusahaan memanfaatkan waktu untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan fasilitas smelter. Menurutnya, proses tersebut akan selesai sehingga smelter dapat kembali mengolah dan memurnikan konsentrat mulai September 2026.
"Smelter akan mulai beroperasi kembali pada September tahun ini dan kapasitas produksinya akan ditingkatkan secara bertahap hingga akhir tahun," kata Tony.
Editor : Rizky