JATIMPEDIA, Surabaya - TPK Berlian bersama Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Tanjung Perak menggelar program Refreshment Training Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi 835 pekerja TKBM sebagai langkah memperkuat budaya keselamatan di lingkungan operasional pelabuhan.
Pelatihan yang berlangsung dalam enam batch pada 30 April hingga 7 Mei 2026 ini difokuskan untuk meningkatkan pemahaman pekerja terhadap standar K3 saat proses bongkar muat petikemas di area dengan risiko kerja tinggi.
Baca juga: Kinerja Pelabuhan Gresik Menguat, Curah Kering Melonjak 48,72 Persen pada Semester I 2026
Terminal Head TPK Berlian, Burhanudin, menegaskan bahwa K3 bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi harus menjadi budaya kerja yang tertanam dalam setiap individu.
“Di area terminal yang dipadati pergerakan alat berat dan arus petikemas yang dinamis, tidak ada ruang kompromi terhadap prosedur keselamatan. Harapan kami, setiap pekerja berangkat kerja dengan semangat dan pulang ke rumah dalam kondisi sehat dan selamat,” ujarnya.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Achmad Muchtasyar, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya aspek kemanusiaan dalam implementasi K3.
“Pelaksanaan refreshment K3 ini bertujuan menjaga keselamatan seluruh pekerja di area pelabuhan demi keluarga yang menunggu di rumah. Bagi Pelindo, implementasi K3 adalah budaya yang tidak bisa ditawar,” kata Achmad.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan terkait sembilan poin utama Corporate Life Saving Rules (CLSR) yang menjadi standar keselamatan di lingkungan Pelindo. Materi mencakup prosedur kerja di area terbatas, keselamatan di sekitar perairan dengan penggunaan life jacket, hingga penanganan barang berbahaya (dangerous goods).
Baca juga: Pelindo Regional 3 Hadirkan Kantin Transit Area Mirah
Selain itu, pekerja juga dibekali pemahaman terkait verifikasi kelayakan alat berat, prosedur Lock Out Tag Out (LOTO), penggunaan full body harness untuk pekerjaan di ketinggian, serta izin kerja khusus untuk ruang terbatas.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya blind spot pada alat berat seperti Reach Stacker, Rubber Tyred Gantry (RTG), dan truk petikemas. Melalui simulasi visual, peserta diberikan pemahaman mengenai keterbatasan pandangan operator yang dapat memicu risiko kecelakaan.
Para pekerja juga diingatkan untuk selalu menggunakan jalur pedestrian, menjaga jarak aman dari alat berat, serta menghindari penggunaan telepon genggam dan earphone saat berada di area operasional.
Ketua Koperasi TKBM Tanjung Perak, Eko Iswahyuono, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, kesamaan pemahaman antara operator alat dan tenaga kerja lapangan menjadi faktor penting dalam menciptakan keselamatan kerja.
Baca juga: Selama Juni 2026 IPC TPK Panjang Catat Kenaikan Arus Petikemas 73,7 Persen
“Kami berterima kasih atas kegiatan refreshment safety induction dan blind spot ini, karena pemahaman yang seragam antara operator alat dan tenaga kerja lapangan adalah kunci keselamatan bersama,” ujarnya.
Melalui program ini, TPK Berlian berharap budaya kerja berbasis K3 semakin kuat, termasuk mendorong setiap pekerja berani melakukan intervensi keselamatan terhadap perilaku maupun kondisi kerja yang tidak aman.
Dengan sinergi antara manajemen terminal dan seluruh pekerja, TPK Berlian optimistis dapat mempertahankan target Zero Accident guna mendukung kelancaran logistik nasional yang aman dan andal.
Editor : Taufiq