JATIMPEDIA, Jakarta - Raksasa otomotif asal Jepang, Grup Toyota, dipastikan akan memulai konstruksi pabrik bioetanol di Lampung pada semester II-2026. Proyek strategis ini merupakan langkah konkret untuk mendukung target pemerintah dalam mengimplementasikan mandatori E10 pada tahun 2028.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengonfirmasi bahwa target groundbreaking dijadwalkan pada Kuartal III atau selambat-lambatnya Kuartal IV 2026. Fasilitas produksi ini diproyeksikan mulai beroperasi penuh paling lambat pada 2028.
Baca juga: Perkuat Logistik Nasional, Pelindo Operasikan Terminal 2 Petikemas
“Konstruksinya akan kita mulai tahun ini, target di Q3 maksimal di Q4. Kalau berjalan sesuai rencana, maksimal 2028 sudah bisa produksi,” ujar Todotua dalam konferensi pers.
Kepastian investasi ini merupakan hasil tindak lanjut pertemuan dengan CEO Toyota Asia, Masahiko Maeda di Kantor BKPM pada Senin (20/4/2026), sekaligus kelanjutan dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo pada Maret lalu.
Pabrik tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi awal sebesar 60.000 kiloliter per tahun, yang secara signifikan akan memperkuat kapasitas produksi etanol nasional yang saat ini berada di level 120.000 kiloliter per tahun dan kapasitas efektif sekitar 80.000 kiloliter per tahun.
Proyek senilai Rp 2,5 triliun ini akan dijalankan melalui skema konsorsium yang mempertemukan Pertamina New Renewable Energy (Pertamina NRE) dengan Toyota Tsusho sebagai mitra strategis.
Baca juga: Semester I-2026 Toyota Indonesia Ekspor 145.080 Unit Kendaraan ke Pasar Global
Selain itu, proyek ini mendapat dukungan pembiayaan dari Danantara serta asistensi teknologi dari Research Development for Bioethanol (RABID) di bawah naungan METI Jepang.
Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, proyek ini tidak hanya mengandalkan tebu dan singkong, tetapi juga mencakup pengembangan lahan sorgum.
CEO Toyota Asia, Masahiko Maeda, menegaskan komitmennya untuk mendukung arah kebijakan energi Indonesia, termasuk dalam pengembangan kendaraan berbasis energi baru, baik untuk kendaraan penumpang maupun komersial.
Baca juga: Kuartal II-2026, Investasi Hilirisasi Bauksit Naik 193 Persen
“Pada akhirnya, bersama pemerintah Indonesia, kami siap menyediakan berbagai jenis kendaraan yang telah kami miliki. Itulah komitmen kami,” kata Maeda.
Selain soal bioetanol, pertemuan BKPM dan Toyota hari ini juga membahas pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Salah satu yang dibicarakan adalah potensi kerja sama terkait suplai baterai dari Indonesia Battery Corporation (IBC), di mana Toyota diproyeksikan menjadi salah satu offtaker untuk mendukung produksi kendaraan hybrid
Editor : Rizky