JATIMPEDIA, Surabaya - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 berpotensi menembus Rp 190 triliun. Angka ini melampaui realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 160 triliun.
Momentum strategis ini dinilai akan menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga sekaligus katalis bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026.
Baca juga: PetroNite Fest 2026 Bukukan Perputaran Uang Rp14,4 Miliar, Dongkrak Ekonomi UMKM Gresik
Yusuf mengatakan, Ramadhan dan Lebaran 2026 menjadi fenomena yang sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi terkonsentrasi di awal tahun, berbeda dengan pola tahun-tahun sebelumnya yang kerap terdistribusi.
"Saya melihat momentum Ramadhan dan Lebaran 2026 sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa," ujar Yusuf, dikutip Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, pencairan tunjangan hari raya (THR) yang dilakukan dalam dua gelombang, yakni aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan sektor swasta pada Maret tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.
Kondisi ini menciptakan fenomena yang disebut extended spending window, yakni periode konsumsi yang lebih panjang sehingga aliran likuiditas ke sektor ritel, distribusi, dan jasa menjadi lebih stabil.
Berdasarkan tren historis, indikasi kesiapan uang kartal dari Bank Indonesia, serta pola pencairan THR, Yusuf memproyeksikan perputaran uang Ramadhan-Lebaran 2026 meningkat sekitar 10% hingga 15% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 160 triliun.
"Nilainya bisa mencapai kisaran Rp 175 triliun, bahkan bisa melampaui Rp 190 triliun," ungkap Yusuf.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Tutup Satgas Rafi 2026, Pasokan Energi Jatim Aman
Dia menjelaskan, peningkatan perputaran uang tidak hanya berasal dari konsumsi primer seperti makanan dan pakaian, tetapi juga dari lonjakan signifikan pada sektor transportasi, akomodasi, dan pariwisata daerah.
Selain itu arus mudik juga berperan sebagai mekanisme redistribusi ekonomi dari kota besar ke daerah yang memicu efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi lokal.
Dari perspektif makroekonomi, dampak ini menjadi penting karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yakni sekitar 54-55%.
Ketika perputaran uang dalam skala ratusan triliun terjadi pada kuartal I yang biasanya menjadi periode pertumbuhan relatif lemah maka baseline pertumbuhan ekonomi berpotensi terdorong naik.
Baca juga: PLN Pastikan Pasokan Listrik dan Layanan SPKLU Prima dan Andal
"Saya memperkirakan momentum ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I secara tahunan ke kisaran 5,0% hingga 5,1%," kata Yusuf.
Meski demikian, dia mengingatkan efektivitas dorongan konsumsi tersebut sangat bergantung pada stabilitas inflasi, khususnya harga pangan pokok.
Maklum, jika inflasi meningkat terlalu tinggi, daya beli riil masyarakat berpotensi tergerus sehingga multiplier effect terhadap ekonomi tidak optimal.
Editor : Rizky