JATIMPEDIA, Jakarta - Kementerian Pertanian mencatat kinerja ekspor kopi Indonesia pada 2024 sebesar 316,7 ribu ton dengan nilai lebih dari 1,63 miliar dolar AS atau berkisar Rp 25,4 triliun.
Pemerintah berkomitmen memperkuat pengembangan kopi nasional di tahun 2026 melalui strategi peningkatan produktivitas, mutu, dan nilai tambah berbasis hilirisasi. Langkah ini ditempuh untuk menjaga daya saing kopi Indonesia di tengah dinamika pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun.
Baca juga: Mentan Tegaskan Pabrik Gula Wajib Punya Kebun Tebu Sendiri
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, produksi kopi nasional mencapai sekitar 813 ribu ton kopi berasan. Capaian tersebut menjadi pijakan penting dalam perumusan kebijakan pengembangan kopi ke depan.
Pemerintah memandang, kopi sebagai komoditas strategis yang tidak hanya menopang penghidupan jutaan pekebun, tetapi juga menjadi salah satu andalan ekspor subsektor perkebunan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Perkebunan Abdul Roni menegaskan arah pengembangan kopi nasional tidak semata berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga pada penguatan kualitas, keberlanjutan, dan percepatan hilirisasi.
Baca juga: Petani Tebu Apresiasi Program Kementan, Optimistis Dukung Swasembada Gula
"Pengembangan kopi nasional harus memberikan nilai tambah yang nyata bagi pekebun. Kebijakan ke depan difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun rakyat, peremajaan tanaman, penguatan penanganan pascapanen, serta percepatan hilirisasi agar kopi Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dalam produk olahan bernilai tambah tinggi," ujar Roni di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan posisi tawar kopi Indonesia di pasar global, termasuk melalui pengembangan industri roasting, produk kopi siap seduh, ekstrak kopi, hingga diversifikasi produk turunan lainnya.
Baca juga: Pemprov Jatim Optimistis Kopi dan Kakao Jatim Tembus Pasar Global
Kementan menargetkan penguatan akses pasar ekspor hingga 2026 melalui peningkatan konsistensi mutu, pemenuhan standar internasional, serta pengembangan produk kopi olahan sesuai kebutuhan pasar global. Abdul mengatakan, pemerintah juga mendorong penerapan praktik budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim serta penguatan pendampingan dan kelembagaan pekebun.
Selain itu, penguatan kemitraan antara pekebun dan pelaku industri pengolahan terus didorong untuk mempercepat transformasi hilirisasi di sentra-sentra produksi. "Dengan strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan hilirisasi di dalam negeri, pengembangan kopi nasional hingga 2026 diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, serta memperkuat kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan," pungkasnya
Editor : Rizky