Nilai Tukar Rupiah Masih Lemah

BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga Acuan di Awal 2026

Reporter : Fitri Handayani
Ilustrasi BI Rate

JATIMPEDIA, Jakarta - Kalangan ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, BI masih akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada awal tahun ini lantaran kondisi nilai tukar rupiah cenderung melemah akhir-akhir ini.

Baca juga: Cadangan Devisa Indonesia Kembali Menyusut Jadi 145,3 Miliar Dolar AS

Untuk diketahui, pada perdagangan Senin sore (19/1/2026), kurs rupiah ditutup melemah 68 poin terhadap dolar AS (US$), setelah sebelumnya sempat melemah 75 poin di level Rp 16.955, dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.896.

"Ekspektasinya (suku bunga BI) masih ditahan untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah apalagi memang rupiah cenderung melemah akhir-akhir ini walau inflasi relatif stabil," tutur David, dikutip Selasa (20/1/2026).

Saat ini David belum bisa memprediksi kapan suku bunga BI akan turun. Menurutnya, arah pemangkasan suku bunga BI akan bergantung juga dengan kebijakan suku bunga The Fed yang juga turun.

Terkait rupiah, ia memprediksi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek akan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Menurut David, agar rupiah stabil, kebijakan fiskal saat ini perlu diperhatikan dibandingkan kebijakan moneter. Pasalnya, investor lebih cenderung memperhatikan kebijakan fiskal.

"Investor lebih memperhatikan kebijakan fiskal, sedangkan kebijakan moneter sudah baik," ungkapnya.

Dia berharap, kebijakan fiskal saat ini dan ke depan bisa tetap konservatif dan prudent, agar nilai tukar rupiah tidak melemah lebih dalam ke depannya.

Sementara itu ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang juga memperkirakan suku bunga BI masih akan dipertahankan di level 4.75%. Hal ini lanjutnya, mengingat perlunya menjaga imbal hasil yang menarik dalam mendukung kestabilan nilai tukar rupiah.

"Juga sejalan mendorong transmisi penurunan suku bunga lanjutan yang sudah dilakukan di sepanjang 2025," tutur Hosianna.

Baca juga: BI Surabaya Bersama TNI AL Lepas Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat Mandiri Jatim

Ke depan, Hosianna memperkirakan di tahun 2026 ini masih ada potensi pelonggaran suku bunga oleh BI, sejalan ekspektasi pasar di global yang memperkirakan kebijakan The Fed untuk kembali melakukan pelonggaran.

"Jadi kapan waktunya BI ya kemungkinan mengikuti arah The Fed untuk menjaga spread yang menarik dalam menjaga kestabilan nilai tukar serta antisipasi menjaga tekanan inflasi domestik," tambahnya.

Adapun Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai, suku bunga masih akan dipertahankan di level 4,75% pada bulan ini, karena kemungkinan BI masih akan fokus menjaga stabilitas moneter yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi stabilitas makroekonomi domestik.

Dia menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi masih membutuhkan dukungan agar dapat tumbuh lebih agresif dan terdapat ruang untuk penurunan suku bunga, kondisi saat ini dinilai belum kondusif.

"Di sisi yang lain juga kita lihat dari sisi laju kredit juga masih tumbuh single digit belum double digit dan kita lihat juga dari sektor riil juga kelihatannya masih butuh suku bunga yang lebih rendah untuk kebutuhan ekspansi," kata Myrdal.

Baca juga: BI Sebut Transaksi QRIS di Semester I-2026 Capai 12,55 Miliar

Oleh karena itu, dia menilai, kebijakan BI saat ini masih difokuskan pada stabilitas moneter. Namun, dia membuka kemungkinan penurunan suku bunga setelah puncak inflasi sekitar April, terutama jika terdapat ruang dari penguatan nilai tukar rupiah.

Terkait upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, Myrdal menilai, langkah yang sudah dilakukan  BI saat ini sudah tepat, terutama dalam menjaga stabilitas suku bunga, serta melakukan berbagai intervensi nilai tukar.

Adapun intervensi tersebut dilakukan melalui pasar spot rupiah, pasar non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar swap, hingga lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurutnya, kebijakan tersebut relevan karena persoalan utama tekanan nilai tukar rupiah berasal dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa permintaan dolar domestik, yang umumnya digunakan untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, maupun hasil investasi, belum sejalan dengan pasokan dolar yang tersedia.

"Walaupun kondisi likuiditas domestik untuk dolar itu berlimpah, tapi ternyata supply-nya tertahan, jadi itu yang bikin kenapa rupiah sekarang pergerakannya relatif melemah terhadap dolar," tandasnya.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru