JATIMPEDIA, Bawean - Perairan Gresik-Bawean dilanda cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu membuat pasokan bahan pokok di Pulau Puteri itu menipis.
Muhammad Fadzli, seorang warga Bawean mengaku sudah sepekan penyebrangan Gresik-Bawean terhenti akibat cuaca buruk. Namun hal itu tidak dilakukan antisipasi sebelumnya. Hingga membuat sejumlah bahan pokok menipis.
Baca juga: Sumur Migas Pangkah Gresik Bikin Pertamina Optimistis, Produksi Tembus 2.443 Barel per Hari
“Harganya mahal, itu pun kalau ada. Barangnya tidak ada,” ucap Muhammad Fadzli.
Misalnya seperti telur yang harganya Rp 40 ribu per kilo. Itu pun di beberapa warung sudah tidak ada stok. Termasuk gas elpiji 3 kilogram yang harganya Rp 35-40 ribu.
“Termasuk BBM, sudah menipis,” kata Muhammad Fadzli.
Baca juga: DLH Gresik Apresiasi Komitmen Petrokimia Gresik Pulihkan Mangrove Mengare
Menurut dia, Bawean sepenuhnya bergantung pada transportasi laut untuk mobilitas penduduk serta distribusi barang dan kebutuhan pokok.
“Penghentian pelayaran memang tidak bisa dinego, tapi perlu ada antisipasi ketika cuaca buruk. Bagaimana suplai bahan pokoknya,” jelas Muhammad Fadzli.
Sementara itu, Staf Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Gresik Taufik mengatakan, kapal cepat Express Bahari belum diizinkan berlayar akibat tinggi gelombang laut. Bahkan hingga Jumat (16/1), kapan kapal cepat kembali berlayar belum bisa dipastikan.
Baca juga: Pasokan Oksigen RSUD Bawean Terancam, Dinkes Siapkan Skema Darurat
“Belum, menunggu data BMKG apabila cuaca sudah stabil,” imbuh Taufik.
Meski demikian, pihaknya berkoordinasi dengan sejumlah operator kapal. KM Dharma Kencana III membuka penyeebrangan dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Bawean. Kemudian KM Dharma Ferry VI dijadwalkan berangkat Sabtu (17/1) pukul 11.00 dari Pelabuhan Tanjung Perak.
“Kapal tersebut juga membawa barang dan sembako ke Bawean,” terang Taufik.
Editor : Eka Sapto