BI-Rate Turun, BCA Belum Berencana Pangkas Bunga

JATIMPEDIA, Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) belum berencana memangkas suku bunga perbankan meski Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis, menjelaskan bank memiliki dua acuan dalam menentukan tingkat bunga, yaitu BI-Rate dan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).

Meski BI-Rate turun, yield SBN masih berada dalam level yang cukup tinggi untuk menarik minat investor.

“Nasabah punya opsi apakah mau taruh uang di bank atau beli SBN. Kalau gapnya cukup besar, bank juga tidak berani serta-merta menurunkan suku bunga untuk depositonya,” kata Jahja.

Baca Juga  Kuartal I-2024, Kredit Konsumer BCA Naik 14,9 Persen

 

Terlebih, bank membutuhkan likuiditas. Bila bank menurunkan time deposit, risikonya nasabah akan memindahkan dana mereka ke surat negara atau bank lain.

“Ini merupakan salah satu perlindungan. Jadi, tidak serta-merta BI-Rate turun, lalu kami turunkan semua time depositnya,” katanya pula.

Jahja menyebut pihaknya melakukan rapat secara berkala untuk melihat posisi likuiditas. Bank juga melihat kebutuhan kredit, biaya operasional, hingga investasi dalam menentukan suku bunga.

Hingga sejauh ini, Jahja optimistis bank selalu mengambil keputusan yang benar terkait suku bunga perbankan.

“Kalau kita lihat, BCA stabil untuk tren cost of fund. Ini karena kita relatif mempertahankan bunga time deposit,” ujar dia.

 

Baca Juga  PT Freeport Indonesia Rayakan HUT ke-57 dengan Berbagi Kebaikan Bersama Masyarakat Gresik

Diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Bulan Januari 2025 pada Selasa (14/1) dan Rabu (15/1), memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi berada di level 5,75 persen.

Suku bunga deposit facility turun 25 bps menjadi di level 5 persen. Sedangkan suku bunga lending facility juga diputuskan untuk turun 25 bps menjadi di level 6 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penurunan itu untuk mendorong pertumbuhan dari sisi permintaan di dalam negeri. (cin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *