JATIMPEDIA, Sidoarjo -Pemerintah terus memperluas jaringan gas bumi (jargas) untuk rumah tangga di Kabupaten Sidoarjo. Tahun ini, sebanyak 7.223 sambungan rumah tangga dibangun melalui pendanaan APBN di Kecamatan Waru dan Candi. Tambahan tersebut membuat total sambungan jargas yang telah dibangun di Sidoarjo selama tujuh tahun mendekati 30.000 sambungan.
Baca juga: Bupati Sidoarjo Serahkan Penghargaan Kepada Pendonor Danar Terbanyak
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Agung Kuswardono, mengatakan Sidoarjo menjadi salah satu daerah yang mendapat pembangunan jargas cukup besar. Namun, pemerintah kini tidak hanya mengejar penambahan jaringan, tetapi juga mendorong agar sambungan yang sudah terpasang benar-benar dimanfaatkan masyarakat.
"Kita akan sosialisasi kembali supaya angka penggunaannya lebih besar. Nanti masyarakat yang sudah menggunakan jargas juga bisa berdialog langsung dan menyampaikan berapa penggunaannya serta berapa penghematan yang mereka rasakan," ujar Agung saat meninjau Jargas di desa Kali Pecabean Candi Sidoarjo.
Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Dudung Abdurachman mengatakan pembangunan jargas di Sidoarjo dan Gresik merupakan hasil kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, SKK Migas, PGN dan berbagai pihak terkait. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar program jargas dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Sekarang semua karyawan pemerintahan, kabupaten, kemudian provinsi, bahkan kementerian kita bekerja keras bahu-membahu menyukseskan program pemerintah agar masyarakat semakin sejahtera," ujar Dudung.
Seiring bertambahnya pelanggan, Dudung meminta PGN memastikan keandalan pasokan dan kualitas pelayanan. Ia juga menegaskan pemasangan jargas yang menggunakan pendanaan APBN tidak dipungut biaya oleh masyarakat dan meminta warga melaporkan apabila terdapat pihak yang meminta pungutan.
Direktur Infrastruktur dan Teknologi Hery Murahmanta mengatakan dari sisi pasokan, kebutuhan gas untuk pengembangan jargas di Jawa Timur pada dasarnya tersedia. Namun, pengelolaannya tetap membutuhkan koordinasi dengan SKK Migas dan Kementerian ESDM, terutama karena kebutuhan gas di Jawa Timur cukup besar.
Baca juga: Kurang Pasokan Gas, Enam Perusahaan Keramik Nasional Tutup Usahanya
"Untuk pasokan memang kita harus koordinasi dengan teman-teman dari SKK dan ESDM. Teman-teman di Jawa Timur mempunyai demand yang luar biasa," kata Hery.
Hery memastikan untuk jaringan dengan cakupan tidak terlalu besar, pasokan gas masih mencukupi, termasuk untuk wilayah Sidoarjo dan Gresik. Di sisi lain, keandalan jaringan terus dipantau melalui pemeriksaan rutin. Jargas juga dilengkapi odoran sehingga kebocoran dapat terdeteksi melalui bau, sementara gas bumi yang lebih ringan dari udara cenderung bergerak ke atas.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan pendanaan. Hery menyebut biaya pembangunan satu sambungan rumah tangga sekitar Rp10 juta. Dengan kebutuhan investasi tersebut, kapasitas pembangunan melalui perusahaan saat ini sekitar 50.000 sambungan per tahun. Untuk 2026, selain target tersebut, Kementerian ESDM menyiapkan sekitar 119.000 sambungan yang akan diserahkan kepada perusahaan untuk dikelola.
Baca juga: Jargas 7.363 SR di Menganti Tuntas 100 Persen Siap Layani Warga.
Di sisi pemanfaatan, masih terdapat masyarakat yang belum menggunakan sambungan jargas secara optimal. Berdasarkan survei, sebagian warga masih menggunakan kayu, sementara lainnya tetap memilih LPG karena sudah terbiasa. Karena itu, pemerintah bersama PGN akan meningkatkan sosialisasi agar masyarakat memahami manfaat dan penghematan yang dapat diperoleh dari jargas.
Pengembangan jargas juga diarahkan menggunakan skema klasterisasi, seperti yang diterapkan di Sleman dengan memanfaatkan CNG. Model tersebut dinilai berpotensi direplikasi di Jawa Timur. Salah satu daerah yang telah diusulkan adalah Malang. Selain rumah tangga, skema klaster juga dapat melayani pelanggan komersial seperti restoran, hotel dan kafe.
Sementara itu, Bupati Sidoarjo Subandi berharap pembangunan jargas terus berlanjut karena Sidoarjo merupakan kawasan industri sekaligus pusat berbagai aktivitas usaha masyarakat. Pemkab Sidoarjo juga telah mengusulkan sekitar 10.500 sambungan untuk kawasan Tropodo, Kecamatan Krian, yang banyak memiliki usaha pengolahan tahu dan sebagian masih menggunakan bahan bakar dari sampah plastik.
Usulan tersebut diharapkan dapat direalisasikan pada 2027 sehingga perluasan jargas tidak hanya menambah jaringan, tetapi juga mendorong peralihan masyarakat ke energi yang lebih aman dan praktis
Editor : Arif