JATIMPEDIA, Jember - Warga Kabupaten Jember diminta meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi ini mendorong BPBD Jember memperkuat kesiapsiagaan, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, hingga 31 Agustus 2026, delapan wilayah telah mendapat penanganan kekeringan, yakni Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, dan Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang. Dampaknya mencapai lebih dari 1.000 KK.
Baca juga: Jember Bidik Hilirisasi Kopi, PDP Kahyangan Didorong Naik Kelas
BPBD bersama sejumlah instansi telah menyalurkan sekitar 507.500 liter air melalui 103 kali pengiriman. Distribusi dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan jumlah warga terdampak.
Kondisi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai pemetaan awal. Sejumlah wilayah yang masuk zona hijau justru mengalami persoalan air bersih, seperti Desa Banjarsari, Bangsalsari, dan Desa Panduman, Jelbuk. Di Panduman, gangguan pasokan terutama disebabkan kerusakan jaringan Pamsimas, bukan faktor alam.
Baca juga: Kawal Pemerataan Pupuk Subsidi, HKTI Jember Siapkan Sekolah Lapang Petani Muda
Untuk mengantisipasi kemarau yang lebih panjang, BPBD menyiapkan sekitar 325 tandon dan sejumlah sumber air di berbagai wilayah Jember. Ketersediaan armada tangki juga diperkuat melalui dukungan BPBD, PDAM, Dinas Perkim, dan PMI.
Selain kekeringan, BPBD meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. Hingga akhir Agustus, sejumlah kebakaran terjadi, termasuk di Gunung Watangan, Wuluhan, seluas sekitar 6,5 hektare, serta Gunung Triangulasi, Gumukmas, sekitar dua hektare.
Baca juga: Pemkab Jember Anggarkan Rp187 Miliar untuk Rehabilitasi 258 Sekolah
BPBD mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama kemarau panjang dan meminta pemerintah kecamatan meningkatkan sosialisasi serta kewaspadaan. Pemantauan dan distribusi air akan terus dilakukan sesuai kebutuhan hingga kondisi cuaca membaik.
Editor : Rofiq