JATIMPEDIA, Surabaya -Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan bagi bisnis makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Surabaya.
Data ESB Data Center menunjukkan 78% transaksi F&B di Kota Pahlawan kini dilakukan secara non-tunai, seiring pertumbuhan basis merchant yang mencapai 32�lam setahun terakhir.
Baca juga: HONOR Sasar Pasar Smartphone Pulau Jawa Melalui Rangkaian Honor Tour
Namun, di tengah pasar yang semakin ramai dan biaya operasional yang terus menekan margin, pertumbuhan digital tersebut justru menandai babak baru: pelaku usaha dituntut bukan hanya tumbuh, tetapi juga semakin efisien.
Tren tersebut berjalan sejalan dengan kinerja ekonomi Surabaya. Berdasarkan data BPS Kota Surabaya per 27 Februari 2026, ekonomi Surabaya tumbuh 5,87% pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Jawa Timur maupun nasional. Pada periode yang sama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya mencapai Rp830,54 triliun.
Di sektor F&B, pertumbuhan terlihat dari sisi jumlah pemain maupun aktivitas transaksi. Menurut data internal PT Esensi Solusi Buana (ESB), basis merchant F&B di Surabaya meningkat 32�lam setahun terakhir. Sementara itu, transaksi dari merchant yang sudah beroperasi atau same-store tumbuh hampir 10%.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pasar F&B Surabaya masih memiliki ruang pertumbuhan. Namun, pertumbuhan jumlah pemain juga membuat persaingan semakin tajam. Pelaku usaha harus berhadapan dengan kenaikan harga bahan baku, biaya sewa, tarif listrik, serta upah tenaga kerja. Tingginya turnover karyawan juga menjadi persoalan tersendiri karena dapat memengaruhi konsistensi produk maupun kualitas layanan.
Pertumbuhan jumlah gerai tidak otomatis berarti pertumbuhan pasar. Ketika semakin banyak pemain berebut konsumen yang relatif sama, efisiensi operasional dan kemampuan membaca data transaksi menjadi semakin menentukan.
"Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu. Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat," ujar Agung Haryadi, F&B Educator & Management Consultant.
Baca juga: MPM Honda Jatim Konsisten Lima Tahun Jalankan Employee Volunteering, Delapan Rumah Telah Direnovasi
Menurut Agung, kondisi tersebut merupakan bentuk seleksi alam yang lazim terjadi di kota metropolitan yang berkembang cepat. Dalam situasi seperti itu, pelaku usaha membutuhkan instrumen yang mampu menghasilkan rekomendasi berbasis data, bukan semata mengandalkan intuisi.
Tekanan terhadap margin juga datang dari kanal penjualan digital, khususnya layanan pengiriman daring. Bagi restoran, setiap transaksi delivery harus dihitung berdasarkan biaya akuisisi pelanggan dan komisi platform agar tidak justru menggerus keuntungan.
ESB menyebut ESB Order mengenakan komisi 5%, lebih rendah dibandingkan batas maksimal 8% komisi aplikator ojek online sebagaimana disebut dalam Perpres No. 27 Tahun 2026 yang berlaku mulai 1 Juli 2026.
Dalam kondisi margin yang semakin tipis, selisih beberapa persen dapat menjadi signifikan apabila dikalikan dengan volume transaksi. Karena itu, persaingan bisnis F&B kini tidak hanya berlangsung di sisi produk dan harga, tetapi juga pada kemampuan mengendalikan biaya setiap transaksi.
Baca juga: BI Gratiskan Biaya Transaksi QRIS Hingga Rp 500 Ribu
"Data pertumbuhan transaksi yang kami catat memang positif, tapi kami melihat langsung tekanan operasional yang dihadapi pelaku F&B di lapangan. Ketika harga bahan baku naik dan margin semakin tipis, setiap persen biaya yang bisa dihemat jadi keputusan strategis," kata Gunawan, CEO & Co-Founder ESB.
Menurut dia, ESB Order dikembangkan bukan sekadar sebagai kanal pemesanan, tetapi sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan konversi dan menjaga efisiensi transaksi. Data transaksi yang terkumpul juga dapat digunakan merchant sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.
"Kami juga terus memperkuat ESB OLIN agar datanya bisa bicara soal berbagai cara meningkatkan penjualan dan efisiensi bisnis," ujar Gunawan.
Editor : Eka Sapto