JATIMPEDIA, Banyuwangi - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong percepatan perbaikan jaringan irigasi dan penguatan kelembagaan petani di Banyuwangi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Dorongan itu disampaikan Zulhas saat berdialog dengan petani dalam kegiatan Jagong Tani Guyup Rukun di Banyuwangi, Kamis (20/8). Salah satu persoalan yang banyak disampaikan petani dalam forum tersebut adalah kondisi jaringan pengairan.
Baca juga: Nestle Asia Pasifik Pelajari Pengelolaan Sampah Sirkular di Kabupaten Banyuwangi
Menko Pangan meminta masyarakat menyampaikan persoalan yang dihadapi melalui pemerintah daerah agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau ada masalah dan keluhan masyarakat, sampaikan melalui pemerintah daerah setempat dan ditembuskan kepada saya, supaya bisa kita kawal,” ucap Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.
Dialog tersebut diikuti sekitar 715 pengurus dan petugas irigasi dari enam kecamatan yang masuk dalam cakupan Daerah Irigasi (DI) Baru.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat DI Baru mengairi sekitar 16.000 hektare sawah atau seperempat dari total persawahan Banyuwangi. Kawasan tersebut memiliki potensi produksi padi sekitar 200.000 ton per tahun sehingga pengelolaan jaringan irigasi menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas pertanian.
Dalam dialog, petani mengeluhkan pendangkalan sejumlah sungai dan saluran yang menghambat distribusi air. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Ringin Agung yang jaringan pengairannya melayani sekitar 645 hektare lahan.
Petani mengusulkan normalisasi saluran, pengerukan sedimentasi, serta penambahan sarana pendukung pengairan. Usulan lainnya mencakup penyediaan akses listrik menuju embung dan jalur air darurat untuk meningkatkan pasokan air ke lahan pertanian.
Baca juga: ASN Banyuwangi Berbagi Perluas Perlindungan Pekerja Informal melalui BPJS Ketenagakerjaan
Zulhas mengatakan tim terkait telah melakukan survei lapangan. Pemerintah selanjutnya akan mendorong tindak lanjut perbaikan jaringan irigasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum.
Petani juga mengusulkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian dilakukan melalui mekanisme swakelola sesuai ketentuan dengan melibatkan kelembagaan masyarakat dan petani.
Selain irigasi, dialog membahas harga gabah dan ketersediaan pupuk. Zulhas menyebut distribusi serta harga pupuk saat ini relatif baik. Sementara harga gabah pada panen sebelumnya dilaporkan mencapai lebih dari Rp7.000 per kilogram, meningkat dibandingkan harga yang biasanya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram.
“Pupuk sudah bagus, harganya lancar. Mereka juga menyampaikan harga gabah bagus, bahkan panen yang lalu sampai Rp7.000 (per kg) lebih, yang biasanya Rp5.000 (per kg) lebih. Pendapatannya meningkat,” katanya.
Baca juga: Jungle Island, Wisata Pesisir Mempesona di Banyuwangi
Penguatan kelembagaan petani dan akses pasar juga menjadi perhatian. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ditargetkan mulai beroperasi pada September untuk membantu memenuhi kebutuhan usaha tani, memperkuat pemasaran, dan meningkatkan posisi tawar petani.
Untuk komoditas hortikultura, fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage diharapkan dapat membantu menjaga kualitas hasil panen sekaligus mempertahankan nilai ekonominya.
Pemerintah menilai perbaikan irigasi, penguatan kelembagaan petani, kepastian pasokan pupuk, serta perluasan akses pasar perlu dilakukan secara bersamaan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Editor : Rofiq