Transaksi QRIS Jadikan Jakarta Motor Ekonomi Nasional

Reporter : Fitri Handayani
Puncak acara Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan GBK, Jakarta

JATIMPEDIA, Jakarta  – Adopsi pembayaran digital di ibu kota mencatatkan rekor fantastis. Bank Indonesia (BI) melaporkan volume transaksi QRIS di Jakarta hingga Mei 2026 telah menembus 3,8 miliar transaksi, melonjak tajam hingga 212% secara tahunan (year-on-year/ YoY). Ledakan digitalisasi ini semakin mengukuhkan posisi Jakarta sebagai etalase sekaligus motor penggerak utama perekonomian nasional.

​Fakta gemilang tersebut dipaparkan dalam puncak acara Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan GBK, Jakarta, Sabtu (4/7/2026). Melalui festival ini, BI menegaskan komitmen kuatnya bersinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperluas digitalisasi, serta menjaga stabilitas harga pangan.

Baca juga: BI Gandeng Finnet Indonesia Perluas QRIS Cross Border


​Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengungkapkan betapa vitalnya posisi tawar ekonomi Jakarta. Pada triwulan I-2026, perekonomian Jakarta sukses tumbuh 5,59% secara YoY, diiringi tingkat inflasi Juni 2026 yang sangat terjaga di angka 2,78% menjadikannya yang terendah di seluruh wilayah Pulau Jawa.

​"Jakarta memiliki kontribusi sekitar 16,7% terhadap perekonomian nasional. Menjaga Jakarta berarti menjaga Indonesia, karena Jakarta merupakan etalase Indonesia di mata dunia," tegas Filianingsih menyoroti esensi kekuatan ekonomi ibu kota, Sabtu (4/7/2026).


​Demi terus mendongkrak capaian positif tersebut, transformasi digital UMKM menjadi kunci. BI menargetkan secara nasional akan ada 17 miliar transaksi QRIS, 70 juta pengguna, serta 47 juta merchant yang terintegrasi sepanjang 2026.

​"QRIS bukan sekadar alat pembayaran, tetapi menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk bergabung ke dalam ekosistem ekonomi digital," urainya mempertegas fungsi strategis QRIS agar pelaku usaha bisa segera "naik kelas".

​Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak lepas dari aksi kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Mengusung tema "A Creative Movement for a Sustainable Global City", JKF 2026 mengintegrasikan pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi, perluasan akses pasar, hingga ketahanan pangan.

​Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan membeberkan, skala penyelenggaraan JKF tahun ini merupakan lompatan besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: BI Ungkap Lonjakan Penggunaan QRIS dan BI-FAST, Ini Jumlahnya

​"JKF kali ini sifatnya lebih masif dan inklusif. Ada 67 institusi yang tergabung dalam kegiatan yang berlangsung hari ini hingga besok. Ini menunjukkan semangat kolaborasi yang luar biasa untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Jakarta," papar Iwan.

​Melihat membludaknya antusiasme warga, Iwan sangat optimistis perputaran ekonomi dan adopsi digital selama event akan melampaui ekspektasi.

"Dari jumlah pengunjung saja terlihat peningkatannya sangat pesat. Kolaborasinya meningkat empat sampai lima kali lipat dibanding tahun lalu dan pengunjung juga sangat ramai. Kami optimistis hingga penutupan acara jumlahnya akan terus bertambah," tambahnya.

Disebutkan di tengah ketidakpastian kondisi global, fundamental ekonomi Indonesia terbukti tangguh dengan pertumbuhan sebesar 5,61% pada triwulan I-2026. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini akan tetap stabil di kisaran 4,9% hingga 5,7%.

Baca juga: BREAKING NEWS : Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Ditunjuk sebagai Plt Gubernur BI

​Untuk memastikan momentum ini terus terjaga, BI bersama Pemprov DKI Jakarta akan terus menggencarkan berbagai intervensi konkret, mulai dari operasi pasar secara masif yang telah digelar 710 kali hingga Mei 2026 hingga pemberdayaan UMKM melalui program unggulan seperti Jagoan Wirausaha Jakarta (Jawara).

Lonjakan masif adopsi pembayaran digital di Jakarta ini menjadi cerminan dari percepatan transformasi struktural pascapandemi dan perubahan perilaku konsumen ke arah cashless society.

Diselenggarakannya JKF 2026 bukan sekadar perayaan pencapaian angka, melainkan langkah strategis BI bersama Pemprov DKI untuk mengamankan fondasi ekonomi domestik di tengah ketidakpastian pasar global. Fokus pada digitalisasi UMKM dan pengendalian inflasi pangan diproyeksikan menjadi bantalan kuat guna mempertahankan daya saing Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis berskala global

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru