Avtur Pesawat Naik, Biaya Perjalanan Umrah Naik Hingga Rp 3 Juta

Reporter : indri fitria
Kegiatan pameran umrah di Icon Mall Gresik

JATIMPEDIA, Surabaya - Industri penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan haji nasional kini tengah menghadapi tekanan berat akibat fenomena double whammy-pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur). Kombinasi dua faktor ini memaksa para agen travel melakukan penyesuaian tarif paket demi menjaga margin operasional.

Wakil Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Rizky Amelia, mengungkapkan bahwa volatilitas kurs dolar AS menjadi motor utama pembengkakan biaya ini.

Baca juga: Selain Avtur, Keterbatasan Armada Picu Harga Tiket Pesawat Tetap Tinggi

Menurut Amelia, pergeseran nilai tukar rupiah dari kisaran Rp16.800 ke level Rp18.100 per dolar AS langsung mengerek komponen biaya operasional dalam denominasi asing.

"Dari kenaikan kurs ini saja, selisih biaya per jemaah (per pax) sudah berkisar antara Rp2,8 juta hingga Rp3 juta," ujar Amelia, dikutip Selasa (9/6/2026).

Selain faktor moneter, struktur biaya komponen penerbangan juga ikut terdistorsi. Direktur Utama Elaf Indonesia tersebut menjelaskan bahwa kenaikan harga avtur yang bersifat nasional memicu maskapai penerbangan untuk mengoreksi harga tiket mereka secara signifikan.

Tantangan ini dinilai lebih terasa untuk penerbangan dari daerah, seperti Surabaya, yang mayoritas menggunakan skema direct flight (penerbangan langsung) ke Jeddah atau Madinah demi kenyamanan jemaah. Konsekuensinya, biaya operasionalnya menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan keberangkatan dari hub utama seperti Jakarta.

Ia menyebut penerbangan umrah dari Surabaya umumnya menggunakan penerbangan langsung menuju Jeddah atau Madinah tanpa transit, sehingga biaya operasionalnya lebih tinggi dibandingkan keberangkatan dari Jakarta.

Baca juga: Harga Avtur Pertamina Turun 10 Persen Mulai 1 Juni 2026

"Kenaikan avtur ini sifatnya nasional. Untuk maskapai Lion berkisar Rp 5 juta, Garuda Rp 7 juta, dan Saudi Airlines bisa mencapai Rp 7,5 hingga Rp 8 juta. Akibatnya, penyesuaian harga tidak bisa dihindari," terangnya.

Menariknya, meskipun diterpa sentimen negatif dari sisi biaya, permintaan pasar (demand) terhadap ibadah umrah terbukti sangat resilien. Lonjakan biaya ini ternyata tidak serta-merta memicu gelombang pembatalan masif dari calon jemaah.

Amelia membeberkan bahwa data manifes keberangkatan untuk periode Juli 2026 masih menunjukkan tren yang stabil. Koreksi atau penurunan jumlah jemaah tercatat hanya berada di kisaran tipis, yaitu 10%, dan belum ada laporan mengenai calon jemaah yang menarik diri atau membatalkan keberangkatan.

Baca juga: Patra Logistik Salurkan 265 Ribu KL Avtur

"Alhamdulillah, jemaah yang mendaftar untuk keberangkatan Juli nanti tetap stabil dan tidak ada yang mengundurkan diri. Mereka memahami situasi ekonomi global ini," imbuhnya.

Dari perspektif perilaku konsumen (consumer behavior), pasar saat ini tampaknya lebih mengutamakan aspek fungsionalitas dan kenyamanan. Mayoritas jemaah lebih memilih menoleransi penyesuaian harga atau membayar biaya tambahan ketimbang harus mengorbankan kualitas layanan, fasilitas hotel, maupun maskapai yang mereka terima.

"Semua kembali ke kualitas. Jemaah tetap menghendaki fasilitas yang prima dan mereka siap dengan penyesuaian tersebut karena nilainya dirasa masih cukup rasional dan terjangkau," tutup Amelia.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru