JATIMPEDIA, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar US$ 7,8 miliar atau 0,1�ri produk domestik bruto (PDB) selama tahun 2025.
NPI berbalik arah dari periode yang sama tahun 2024 sebab saat itu mengalami surplus US$7,2 miliar.
Baca juga: Ekonomi Jawa Timur 2025 Tumbuh Stabil 5,33 Persen
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan kondisi NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Sementara itu, neraca transaksi berjalan mengalami defisit US$ 1,5 miliar sepanjang tahun 2025.
“Perkembangan ini(transaksi berjalan) dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring dengan kinerja ekspor yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur,” ungkap Ramdan dalam siaran persnya.
Dia memaparkan, secara keseluruhan tahun 2025 perkembangan NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Surplus neraca pendapatan sekunder juga lebih tinggi dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Baca juga: Kadin Proyeksikan PDRB Jatim 2026 Tumbuh 5,3 Persen
Sementara itu, defisit neraca jasa meningkat didorong oleh kenaikan defisit jasa telekomunikasi sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi.
Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen. Transaksi modal dan finansial 2025 mencatat defisit sebesar US$ 4,2 miliar karena didorong oleh keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi sepanjang tahun 2025.
Posisi cadangan devisa juga meningkat dari US$ 155,7 miliar pada akhir Desember 2024 menjadi US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Sumbang 50 Persen PDRB Kota Malang
Ramdan menuturkan, BI terus mencermati kondisi perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI. Selain itu, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan melalui sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal.
”Kinerja NPI 2026 diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,1% sampai dengan 0,9�ri PDB (Produk Domestik Bruto),” tutur Ramdan.
Editor : Rizky