JATIMPEDIA, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca di Indonesia akan kembali normal, memasuki fase netral, mulai April 2026 mendatang. Fenomena iklim global yang memengaruhi curah hujan ekstrem, seperti La Nina maupun El Nino, pun diperkirakan tidak akan terjadi hingga akhir tahun 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, La Nina lemah yang saat ini terjadi diperkirakan akan terus melemah dan berakhir pada Maret 2026. Setelah La Nina berakhir, kondisi iklim diperkirakan berada pada fase netral mulai April hingga akhir 2026. Fase netral ini berarti kondisi suhu permukaan laut di Pasifik ekuator mendekati rata-rata, sehingga pengaruhnya terhadap pola hujan Indonesia tidak signifikan.
Baca juga: BMKG Malang : Ada 623 Gempa Guncang Jatim Selama Juli 2026
"Kalau berdasarkan pengalaman panjang dan pemantauan indikator di wilayah Nino 3.4 di perairan Pasifik tengah, La Nina ini nanti akan terus melemah hingga sampai dengan bulan Maret. Ini berdasarkan dari prakiraan iklim dinamik dan statistik yang kami miliki," ujar Faisal, dikutip Kamis (29/1/2026).
"Lalu nanti pada bulan April hingga akhir tahun itu cenderung dalam kondisi normal, ya tidak ada El Nino, tidak ada La Nina. Jadi normal," sambungnya.
Meski begitu, Faisal menekankan bahwa waktu peralihan musim di setiap wilayah Indonesia tetap akan berbeda-beda. Untuk wilayah selatan Indonesia seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, musim hujan diperkirakan berakhir pada Februari hingga Maret. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor regional seperti pergerakan angin monsun dan kondisi suhu perairan lokal.
Baca juga: Musim Kemarau Surabaya dan Sekitarnya Diguyur Hujan, Ini Kata BMKG
"Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau. Baru musim hujan kembali dimulai di Oktober," kata Faisal.
Sementara itu, wilayah yang berada di sekitar ekuator memiliki karakteristik iklim yang berbeda. Faisal mencontohkan wilayah Sumatera bagian utara yang mengalami dua kali puncak hujan dan dua kali periode lebih kering dalam setahun. "Misalnya saya berikan contoh untuk daerah Aceh, kemudian Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dia memiliki kondisi di mana terjadi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau," kata dia.
Saat ini, lanjut Faisal, beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Sumatera Barat sudah mulai memasuki periode kemarau pertama, meski tingkat kekeringannya tidak terlalu tinggi. "Tapi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) mungkin bisa terjadi. Nanti di bulan Mei, Juni ada hujan lagi sedikit, baru nanti musim kering lagi," kata Faisal.
Baca juga: BMKG Perkirakan Kemarau di Malang Raya Terjadi Hingga November 2026
Dalam kesempatan itu, Faisal juga menegaskan bahwa BMKG belum dapat memastikan kondisi iklim pada tahun-tahun berikutnya, seperti 2027. Pasalnya, potensi kemunculan El Nino baru bisa diketahui melalui prakiraan lanjutan dari Kedeputian Klimatologi. Prakiraan iklim global biasanya memiliki akurasi yang lebih rendah untuk periode di luar 9-12 bulan ke depan.
"Karena tahun depan kita belum tahu, nanti akan ada prediksi iklim dari Kedeputian Klimatologi, nanti apakah El Nino, biasanya dia agak rebound ya Pak ya, apakah El Nino yang akan terjadi di tahun 2027 sehingga nanti musim keringnya akan lebih panjang," pungkasnya.
Editor : Taufiq