JATIMPEDIA, Surabaya - PT Bukit Darmo Property Tbk (BKPD) optimis kinerja pusat perbelanjaan FairwayNine Mall akan meningkat signifikan pada tahun 2026 seiring mulai beroperasionalnya sejumlah tenant baru.
Direktur PT Bukit Darmo Property Tbk, Brasada Chandra menyebutkan bahwa penambahan tenant menjadi pendorong utama kenaikan okupansi pada tahun mendatang.
Baca juga: 360 Pegolf Dalam dan Luar Negeri Bakal Ramaikan Turnamen HUT Bukit Darmo Golf Ke-27
Brasada menuturkan bahwa per September 2025, tingkat okupansi FairwayNine Mall masih berada di level 57,4%. Namun dengan berbagai komitmen tenant baru yang sudah masuk, manajemen menargetkan okupansi mampu terdongkrak hingga mencapai 82% pada 2026.
"Beberapa yang sudah deal positif buka di 2026, dan saat ini pada tahapan fit out. Ini menjadi sinyal positif dan akan sangat membantu mendongkrak tingkat okupansi mall," ujar Brasada pada public expose perseroan di Surabaya, Rabu (3/12/2025).
Tenant-tenant yang dipastikan akan buka di 2026 antara lain Cork & Screw seluas 506 m², Falcon Fitness seluas 404 m², Ah Bang Kopitiam, Hanam BBQ Resto seluas 403 m², GBI Keluarga Allah seluas 1.154 m², Natural Farm, hingga City Garden dengan area mencapai 4.933 m².
Tidak hanya itu, manajemen juga tengah menjajaki masuknya perusahaan asal Korea dengan potensi luas ruang hingga 3.000 m². Selain itu, rencana penambahan anchor tenant berupa supermarket juga tengah dimatangkan.
Perseroan juga turut menyiapkan pengembangan kawasan Fairway Walk yang ditargetkan beroperasi pada kuartal III-2026. Area ini diproyeksikan menjadi magnet baru bagi pengunjung dan penyewa potensial.
"Pengembangan FairwayNine Mall memiliki peran krusial bagi kinerja perusahaan. Saat ini, pendapatan dari sewa mall berkontribusi sekitar 72% terhadap pendapatan perseroan, diikuti oleh pendapatan sewa apartemen dan perkantoran," papar Brasada.
Untuk mendongkrak jumlah kunjungan, perseroan telah merancang rangkaian event tematik sepanjang 2026, termasuk festival makanan berskala besar. Upaya ini dinilai dapat memperluas basis pengunjung sekaligus menarik minat tenant baru.
Saat ini, traffic pengunjung mall berkisar 50 ribu orang per bulan. Dengan tambahan atraksi dan tenant baru, manajemen menargetkan jumlah tersebut meningkat bertahap hingga mencapai 80 ribu pengunjung per bulan pada 2026.
Pada kesempatan yang sama, Brasada juga memaparkan perkembangan proyek hotel Hyatt Centric yang menjadi salah satu portofolio penting perseroan. Dia mengungkapkan bahwa finalisasi desain yang seharusnya rampung pada September 2025 harus mundur karena adanya pekerjaan sistem mekanikal.
Target terbaru, seluruh desain Hyatt Centric akan final pada akhir Desember 2025. Setelah itu, perseroan akan menghitung kebutuhan anggaran renovasi 210 kamar yang berkisar Rp 200 miliar pada Januari 2026.
Proses tender proyek direncanakan dimulai pada Februari atau Maret 2026, dengan pengerjaan konstruksi dimulai Juli 2026. Proyek ini ditargetkan memakan waktu 12 bulan sehingga soft opening hotel dapat dilakukan pada akhir atau kuartal III-2027.
Dari total anggaran renovasi, perseroan menyiapkan alokasi sekitar Rp 100 miliar pada 2026, sebagian besar bersumber dari dana internal. Hyatt Centric yang akan dihadirkan mengusung konsep hotel bintang empat dan lima.
Hotel tersebut juga akan dilengkapi fasilitas Golf Lounge sebagai titik awal layanan premium bagi tamu, termasuk VIP lounge serta fasilitas shower dan penunjang lainnya. Brasada menyebut fasilitas ini akan menyasar golfer dan tamu korporasi yang membutuhkan layanan eksklusif.
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan perseroan per 30 September 2025 tercatat sebesar Rp 27,317 miliar, turun 10,49% dibanding akhir tahun sebelumnya yang sebesar Rp 30,520 miliar. Brasada menyebut penurunan ini disebabkan pengerjaan beberapa proyek serta belum beroperasinya tenant baru.
Kondisi tersebut membuat perseroan masih membukukan rugi setelah pajak sebesar Rp 27,227 miliar. Meski demikian, angka itu lebih baik dibanding kerugian per Desember 2024 yang mencapai Rp 35,914 miliar.
Brasada menjelaskan bahwa beban terbesar berasal dari biaya maintenance yang mencapai Rp 3,4 miliar, di samping dampak depresiasi rupiah. "Ini memang waktunya menjaga semua peralatan tetap berfungsi baik, seperti genset, chiller, hingga instalasi pengolahan air limbah," jelasnya.
Meski rugi masih berlanjut, manajemen menegaskan bahwa 2026 akan menjadi tahun agresif dengan rencana kerja yang kompleks dan terarah. Perseroan bahkan memproyeksikan kerugian hingga Desember 2025 bakal sedikit lebih besar dibanding 2024, namun tetap optimistis pemulihan akan mulai terlihat pada 2026.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Brasada menekankan bahwa 2026 akan menjadi momentum penting. "Kami sangat optimis 2026 kinerja akan membaik. Tenant bertambah, traffic naik, dan seluruh pengembangan akan mulai terasa hasilnya," pungkasnya.
Editor : Rizky